Label

Minggu, 06 September 2015

Ust. Yudi Faisal, S.Ag, TRAINER DAN KONSULTAN MASALAH HIDUP


“Dulu, boleh jadi ia banyak bertanya pada saya. Kini, saya jujur mengatakan bahwa saya berguru padanya.”



Saya tidak begitu mengenalnya. Tapi, ia pernah sekelas dengan saya saat nyantri di Pondok Pesantren Darussalam Ciamis, Jawa Barat. Wajahnya manis, ganteng dan kalau berbicara cukup cepat. Seingat saya, dia tak terlalu menonjol di kelas. Hal itu diakuinya sendiri. “Saya adalah murid yang paling bodoh,” ujarnya merendah suatu kali.

Namun, ada satu hal yang sangat menonjol darinya saat itu, dia pandai menyukur rambut. Hasil potongannya tidak kalah dengan tukang cukur rambut profesional. Model apapun bisa dibuat olehnya. Karena itu, saat nyantri dulu, banyak teman-teman yang motong rambutnya ke dia, termasuk saya sendiri.

Selain itu, tidak banyak memori yang saya ingat tentangnya. Entahlah teman-teman yang lain! Ketika lulus dari sekolah tahun 1997 dan kami melanjutkan kuliah ke kampus masing-masing, saya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan ia ke UIN Bandung, kami tidak pernah bertemu lagi.

Hingga pertemanan kami lewat group BBM mulai dibentuk. Dari situlah satu persatu kawan-kawan lama dari satu sekolah saat jadi santri di Ponpes Darussalam bermunculan. Salah satunya adalah Yudi Faisal ini.

Kembali menyapa lewat BBM setelah 18 tahun membuat saya cukup antusias. Saya lihat profil BBM-nya, ia mengenakan jas dan berdasi. Sempat bertanya dalam hati saya, “Wah foto sedang apa dia? Apa pekerjaan dia sekarang?” Saya belum bertanya lebih jauh soal pekerjaannya hingga muncul pesan singkat di BBM-nya, “Mau ngisi tabligh akbar di Magelang.”

Saya pun tertarik dengan pesan itu. “Wah hebat juga si Yudi ini, sudah jadi ustadz sekarang!” bisik saya dalam hati.

Ada beberapa hal yang membuat saya terkejut dengan pesan itu. Pertama, jadi seorang ustadz atau penceramah tidak masuk dalam pikiran saya tentangnya. Hal itu merujuk pada apa yang saya lihat ketika ia masih jadi santri. Jika jadi pengusaha, bisa jadi.

Kedua, kelak, mungkin ia hanya seorang guru. Ya, dengan apa yang saya lihat saat ia masih jadi santri, paling banter ia akan jadi seorang guru, wiraswasta dan sebagainya.

Namun, dugaan saya ternyata meleset. Melihat pesan di BBM-nya bahwa ia akan mengisi tabligh akbar membuat saya terkejut sama sekali. “Ia telah melakukan perubahan yang signifikan,” bisik saya dalam hati.

Kami terus berkomunikasi lewat BBM dan ia sendiri akhirnya paling rajin mengirim pesan BBM tentang kegiatannya. Dari situlah kekaguman saya tentang sosok teman saya yang satu ini mulai muncul. Ternyata, dia adalah seorang konsultan masalah hidup, trainer, motivator, dan pengusaha sukses yang sangat sibuk dengan kegiatan mengisi seminar, tabligh akbar dan motivasi hampir setiap hari.

“Apa yang ia lakukan sehingga bisa seperti ini?” Batin saya kembali membisik. Yudi yang sekarang bukanlah Yudi yang dulu. Dulu ia nothing, kini ia somebody. Dulu hanyalah orang biasa, kini menjadi sosok yang luar biasa.

Saya terus memikirkannya. Karena saya termasuk orang yang paling senang melihat perubahan radikal yang terjadi pada seseorang, sejauh dari apa yang pernah saya lihat. Dan bagi saya, Yudi telah melakukan perubahan radikal dalam hidupnya.
Letaknya di Spiritual

Penasaran dengan apa yang terjadi padanya, saya pun bertanya, “Yud, apa yang membuat kamu bisa seperti ini?”

“Ah, saya mah tetap orang biasa, Ep!” ujarnya merendah. “Saya malah tetap banyak belajar dari kamu,” ujarnya lebih lanjut.

“Ndak Yud, saya serius ingin mengetahuinya agar saya juga bisa belajar,” tanyaku penasaran.

Dari situlah ia mulai mengisahkan diri. Saat semester enam ia pernah merintis usaha di bidang property (CV. Alam Persada Mandiri). Usahanya sukses sehingga pernah memiliki beberapa karyawan hingga 500 orang. “Wah keren sekali!” bisik saya dalam hati.

Namun, di tengah jalan ia mengalami cobaan yang sangat berat. Ia ditipu orang hingga dana puluhan juta (80 juta) hilang begitu saja. “Bahkan, saya sempat mau dibunuh dan dipenjara,” akunya jujur. “Wah sampai segitunya!” kata saya.

Selidik punya selidik, “Itu dikarenakan saya belum tahu ilmunya,” ujarnya membuka rahasia.

“Emang, ilmunya apa, Yud?” tanya saya bak seorang murid pada gurunya.

“Shalat tepat waktu dan berjamaah di Masjid (mushola), tahajud, dhuha dan sedekah,” jelasnya.

“Wah keren sekali kamu, Yud!” puji saya padanya.

Ternyata, kunci perubahan radikal yang dialami seorang Yudi Faisal adalah spiritual. Dulu, meski sudah menjadi seorang pengusaha, ia masih sering meninggalkan shalat tepat waktu. Dia juga belum rajin shalat dhuha dan shalat tahajud.

Kini, setiap kali adzan berkumandang ia segera menghentikan segala aktivitasnya dan mulai menuju masjid untuk shalat berjamaah. Kepada teman-temannya di group juga ia selalu mengirim pesan sebelum masuk shalat, yaitu pesan-pesan motivasi yang berisi ajakan shalat berjamaah ke masjid.
Pertemuan di Slipi

Suatu kali saya pernah diajaknya lewat pesan BBM untuk bisa hadir di seminar motivasi “Meraih Sukses & Menyelesaikan Masalah Hidup dengan Cara Allah SWT” yang diadakannya di Bandung. Saya bilang tidak bisa karena saat itu saya habis sakit demam berdarah. Namun, saya mengapresiasinya karena jam terbangnya ternyata sudah cukup tinggi. Tidak saja berkutat di daerah Jogja (tempat tinggalnya) dan sekitarnya, tapi sudah melewati batas-batas kedaerahan. “Semoga sukses acaranya, Yud! Saya harap kita bisa berjumpa di lain waktu” pesanku padanya. “Oke! Terima kasih, Ep!” jawabnya.

Tanggal 16 Agustus yang lalu, kesempatan untuk bertemu kawan lama itu akhirnya tiba juga. Kebetulan ia ada jadwal ngisi seminar di JDC (Jakarta Desain Centre) Slipi, Jakarta. Sehari sebelumnya, ia pun mengupload foto di BBM-nya kalau posisinya sudah ada di hotel Ibis, Slipi, Jakarta.

Saya pun menyanggupinya untuk bisa hadir dan ingin menyaksikan langsung kehebatannya di atas panggung. “Saya penasaran dengan perubahan radikal yang dialaminya itu,” bisik saya dalam hati.

Malam hari sebelum acara itu berlangsung ia mengirim pesan BBM ke saya, “Ep, jadi ‘kan besok hadir. Berangkat habis Subuh ya, agar bisa mengikuti acara dari awal.”

Saya tidak langsung menjawab karena sedang mengikuti perlombaan tenis meja dan bulu tangkis di cluster dalam rangka menyambut HUT RI. Pagi hari saya pun membalasnya, “Insya Allah saya datang, Yud.”

Namun, tiba-tiba listrik di perumahan kami mati total sehingga air pun habis. Saya hampir-hampir saja tidak bisa menghadirinya. Namun, atas izin Allah, jam 07.00 pagi listriknya nyala dan saya pun bisa mandi serta bersiap-siap untuk melihat secara langsung aksi Yudi Faisal di panggung.

Saya dan istri akhirnya ke Slipi dan bertemu langsung dengan Yudi Faisal di Gedung JDC. Ketika saya datang, acara sudah dimulai. Dari luar ruangan saya sudah mendengar suaranya yang pernah saya kenal 18 tahun yang lalu. Saya mengisi absen dulu dan mengambil formulir serta snack lalu masuk ke dalam. Di situlah saya melihat sosok Yudi Faisal yang ganteng dan berwibawa sedang berbicara di depan puluhan orang yang terdiri dari para pengusaha, pejabat, wiraswasta, salesman, dan sebagainya. Ngomongnya lancar dan cepat, persis yang pernah saya lihat saat sama-sama jadi santri dulu. Tapi, kini ucapannya terasa jauh lebih bermakna.
Pesan Motivasi

Brand seminar motivasi yang dibawakan oleh lelaki yang sehari-hari dipanggi ustadz ini adalah “Meraih Sukses & Menyelesaikan Masalah Hidup dengan Cara Allah SWT”. Dalam seminar ini akan dikupas beberapa hal. Pertama, dari mana lahirnya hutang? Kenapa cicilan bisa macet padahal ikhtiar sudah maksimal?

Kedua, kenapa rumah tangga berantakan. Ketiga, bagaimana agar Anda bisa menghadapi ujian hidup, mulai dari hutang, cerai, ketipu dsb dan bagaimana solusinya? Keempat, kenapa marketing gagal dalam menjual produknya: sulit laku?

Kelima, apakah Anda selama ini telat shalat? Keenam, apa hubungannya tidak pernah shalat dhuha dengan rejeki yang makin berkurang. Tujuh, bagaimana supaya karyawan rajin shalat tepat waktu dan dhuha dan efeknya ke omset naik 10 kali lipat setiap bulan.

Delapan, bagaimana Anda bisa berbakti dan membahagiakan orang tua Anda sebelum mereka meninggal. Sembilan, kenapa hidup galau, stress dan tanpa arah? Terakhir, sepuluh, bagaimana supaya jadi pengusaha sukses dengan modal kecil tanpa hutang ke bank.

Demikian beberapa point penting yang disampaikan Yudi Faisal dalam setiap seminar. Hal itu juga yang saya dengar saat ia mengisi seminar di JDC. Materinya sangat menggugah jiwa. Bagi saya, Yudi telah berhasil sebagai seorang motivator kelas nasional. “Tinggal ia menunggu masuk televisi saja,” bisik saya dalam hati.

Salah satu pesan motivasi yang saya ingat saat di JDC adalah “Kerja itu cuma selingan untuk menunggu waktu shalat.” Selama ini ternyata kita keliru soal memandang hidup. Ternyata, kerjaan itu hanyalah selingan. Tugas dan pekerjaan utama kita sesungguhnya adalah beribadah kepada Allah yang diwujudkan salah satunya dengan shalat. Mindset ini harus ditanamkan dalam pikiran dan hati kita, bila kita ingin sukses dalam hidup.

Menurut Yudi yang juga pendiri IPMI (Ikatan Pengusaha Muslim Indonesia) ini, “Suksesmu adalah keputusanmu. Kesulitan akan menguji. Masalah akan menghampiri. Pembenci akan coba jatuhkan. Tapi, yang bisa hentikan dirimu hanyalah keputusanmu. Ya, keputusan berhenti berjuang atau terus berjuang apapun kondisinya.”

Sebab, kata Yudi, hidup itu ibarat sebuah buku. Tuhanlah yang menyediakan pena takdir dan Anda adalah penulisnya (nasib).

Lebih lanjut ia mengatakan, “Bila tak kuasa memberi, jangan mengambil. Bila mengasihi terlalu sulit, jangan membenci. Bila tak mampu menghibur orang, jangan membuatnya sedih. Bila tak mungkin meringankan beban orang lain, jangan mempersulit. Bila tak sanggup memuji, jangan menghujat. Bila tak bisa menghargai, jangan menghina. Jangan mencari kesempurnaan. Tapi, sempurnakanlah apa yang telah ada pada kita.”

Sebuah pesan yang magic. Soal ujian, Yudi juga pernah mengatakan bahwa kalau saat ini kita sedang ditempa, dibakar, dan dilebur dalam permasalahan, itu artinya kita sedang diarahkan pada kekuatan, keharuman, kebijakan, dan kemuliaan. Karena itu, bersabarlah atas apa yang telah menimpa kita.

Sebab, kata Yudi, sakit itu indah. Banyak orang yang ingin sekuat baja tapi tidak mau ditempa. Banyak yang ingin seharum dupa tapi tidak mau dibakar. Banyak yang ingin secemerlang emas tapi tak mau dilebur. Banyak yang ingin jadi orang yang berguna tapi tak mau memberi.

Yudi juga berbicara soal rejeki dan hutang. Kenapa rejeki kita mampet, hidup susah, hutang bertambah banyak, bertengkar terus, anak susah tidur dan sebagainya? Menurutnya, mungkin ada ibadah kita yang lalai. Mungkin juga kita berbuat maksiat tanpa kita sadari. “Jika ketakwaan adalah penyebab datangnya rejeki, maka meninggalkan ketakwaan berarti menimbulkan kefakiran,” pesannya pada saya lewat BBM.

Bagi remaja atau muda-mudi yang lagi patah hati, Yudi juga memberikan tips begini, “Jangan tangisi seseorang yang pergi meninggalkanmu demi orang lain. Tapi belajarlah mengikhlaskan dan melupakannya agar dia tidak menjadi bayang-bayang langkahmu selanjutnya. Kebodohannya melepaskanmu adalah kekuatan untukmu melupakannya. Jangan malah membuatmu terlihat bodoh dan sengsara dengan terus-menerus mengingatnya dengan hati yang sakit.”

Terakhir, kata Yudi, hidup ini seperti pelari maraton. Fokus saja ke garis finish yang menjadi tujuan hidup kita, jangan terlalu sering menoleh dan mengurusi pelari lain, apalagi harus mengurusi orang yang jelas tidak ikut lari.

Demikian sebagian dari pesan-pesan motivasi Ustadz Yudi Faisal, S.Ag yang menggugah jiwa. Kini, ia menjadi seorang motivator yang sukses. Jadwalnya hingga bulan Oktober 2015 sudah padat. Lihat saja ini: Tanggal 6 september di Payakumbuh Sumut, 13 September di Solo, 20 September di Tasikmalaya, 27 September di Ciamis, 4 Oktober di Semarang, 11 Oktober di Wates, 14 Oktober di Magelang, 17 Oktober di Malang dan 18 Oktober di Tulung Agung.

Dulu, boleh jadi ia banyak bertanya pada saya. Kini, saya jujur mengatakan bahwa saya berguru padanya. Bravo Kang Yudi!

2 komentar:

  1. Alhamdulillah... Setelah mengikuti seminar spiritual dengan ustdz yudi... Semakin menambah semangat beribadah saya dan semakin menguatkan hati saya untuk ber hijrah ke jalan Allah swt...

    BalasHapus