Label

Senin, 24 Agustus 2015

UST.AHMAD RUSTANDI, SUKSES BERKAT RIDHA SANG GURU

“Jangan sekali-kali melupakan jasa orang, terutama guru kita.”

Di mata teman, kerabat dan keluarganya, Ust. Ahmad Rustandi atau lebih akrab dikenal sebagai Aa Anom (nama panggung) sudah sangat sukses. Perannya sebagai Ust. Jufri di sinetron striping Catatan Hati Seorang Istri (CHSI) mengantarkannya pada kesuksesan sekarang. Banyak undangan ceramah dari satu pelosok desa ke desa lainnya. Bahkan, ceramah ke Hongkong pun disambanginya.

Apakah benar ia telah sukses?

“Jika ukurannya saya terkenal, ya saya bisa dikatakan sukses. Tapi, kalau ukurannya agama, saya masih setengah sukses. Saya belum memberikan banyak untuk agama,” ujar Ust. Jufri merendah.

Terlepas dari sukses atau tidaknya sosok yang juga Pengasuh Pesantren Ar Ridwaan ini, ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari perjalanan hidupnya, terutama soal bagaimana ia sebenarnya termasuk anak yang tidak pintar di kelas, namun bisa sukses di kemudian hari. Bahkan, pernah dilempar penghapus oleh guru dakwahnya karena saat disuruh tampil ceramah, ia tidak pernah bisa.
Dilempar Penghapus

Sejak kecil, ayah Ust. Jufri sebenarnya tidak khusus mengajarkannya untuk pandai berdakwah. Hanya saja, anak-anaknya dididik untuk memiliki “mental panggung” yang kuat. “Karena itu, sejak SD saya sering disuruh tampil di acara-acara pengajian ibu-ibu, Maulid Nabi, Rajaban dan yang lainnya,” aku Ust. Jufri tentang pola didik sang ayah kepada dirinya. Metodenya pun masih lucu dan unik. Ia disuruh menghafal materinya dan lalu naik panggung untuk ceramah atau yang lainnya.

Lulus SD sambil nyantri di Pesantren Darul Istiqamah, Ust. Jufri melanjutkan pendidikannya ke MTS An Nizamiyah di Cileungsi. Di sinilah ia pun berkisah tentang pengalaman uniknya yang kemudian bisa merubah perjalanan hidupnya sebagai pendakwah. “Di pesantren ada muhadharah (latihan ceramah). Setiap santri disuruh untuk tampil. Giliran saya, saya gak pernah bisa. Saya selalu gagal. Tiba-tiba saja saya blank, gak bisa ngomong. Padahal, saya merasa sudah mempersiapkan diri dengan baik,” ujar Ust. Jufri memulai kisahnya.

Berkali-kali dicoba selalu gagal, membuat guru dakwahnya yang bernama Ust. Hasan naik pitam. Penghapus di dekatnya pun diambil dan dilemparkannya ke arah Ust. Jufri yang masih remaja saat itu. Sambil marah-marah, guru dakwahnya itu berucap, “Neng, kamu gak bisa-bisa! Mau jadi apa kamu?”

Oleh gurunya, Ust. Jufri dipanggil Neng karena wajahnya yang cantik, tangannya lentik, hidungnya mancung dan kulitnya putih. “Saya seperti perempuan saat masih remaja,” jujurnya sambil tertawa lepas.

Namun, rupanya, Ust. Jufri tidak terima dengan perlakuan gurunya. Ia kembali meraih penghapus itu dan melemparkannya ke guru dakwahnya. Setelah itu ia lari. Namun, sang guru mengejarnya dan menguber-ubernya hingga mengitari pesantren.

Tapi, kebandelan Ust. Jufri saat remaja hanya berhenti sampai di situ. Setelah itu ia meminta maaf pada gurunya dan sang guru pun memaafkannya. Bahkan, sebagai balasannya, Ust. Jufri memijat-mijat gurunya itu setiap malam. “Besok paginya, bajunya saya cuci dan saya strikain juga,” ujarnya.

Semua itu dilakukannya tanpa mengharapkan imbalan apapun. Hanya sebuah bentuk ta’dzim (penghormatan) kepada gurunya dan bentuk penyesalan dirinya yang telah berbuat salah. Saat mijit-mijit itulah, Ust. Jufri bilang, “Maaf Ustadz, saya gak bisa-bisa!”

Oleh sang guru, kembali ia disindir, “Kamu Neng gak bisa-bisa. Bisanya apa sih, kamu?”

Jika sudah begitu, Ust. Jufri hanya bisa terdiam, tak bisa berbuat apa lagi. Kenyataannya, ia memang tak pandai berdakwah. Prestasi di kelasnya pun biasa-biasa saja. Karena keadaannya itu, ia pun sempat dijuluki Pilon (Pinter-pinter Bloon). Di kemudian hari, istrinya (Ust. Jufri) malah bilang, “Abi itu gak pinter, tapi cerdik.”
Berkahnya Guru

Tiga tahun berikutnya, Ust. Jufri lulus dari pesantren dan pamit ingin melanjutkan ke pesantren di Sukabumi, Al Masturiyah. “Ustadz, saya mau pamit. Saya mau pindah,” ujarnya pada sang guru dakwahnya.

“Mau pindah ke mana, Neng?”

“Sukabumi.”

“Kamu mau pindah ke Sukabumi, di sini aja gak bisa-bisa.”

Ust. Jufri hanya terdiam saat gurunya bilang seperti itu. Tapi, tak lama kemudian gurunya berujar kembali, “Kamu memang tidak pintar tapi kamu akan jadi orang. Ilmu ceramah saya, saya ridho buat kamu.”

Dari situ Ust. Jufri remaja keluar dari pesantren sambil membawa ridhanya sang guru. Ridha untuk memiliki ilmu ceramahnya.

Saat Ust. Jufri terkenal sebagai artis karena perannya sebagai seorang ustadz di sebuah sinetron Catatan Hati Seorang Istri (CHSI) yang juga diperankan oleh Sandra Dewi (Hana), Ashraf Sinclair (Bram), Yasmine Wildbood (Vina), Intan Nuraini (Annisa), Baim Wong (Helmi), Oka Antara (Rudolf), Alexandra Gottardo (Sofie), Cut Meyriska (Karin) dsb ini, sang guru yang ikhlas ilmunya diambil oleh muridnya itu pun terkejut. Karena itu, saat ia didatangi oleh Ust. Jufri ke kediamannya, ia pun berujar, “Itulah ucapan saya dulu dan kamu rasakan,” sambil nunjuk-nunjuk. Itulah pertemuan pertama Ust. Jufri setelah terkenal sebagai artis dengan mantan guru dakwahnya. Sejak itu mereka belum bertemu lagi.

Kini, kita kembali kepada kisah hidup Ust. Jufri sebelum terkenal, yakni saat masuk ke Aliyah di Sukabumi, Ponpes Al Masturiyah. Saat di pesantren ada program “Santri Keluar” tiap malam Senin. Uang untuk keluar itu pakai urunan (patungan). Dengan pakaian gamis, Ust. Jufri remaja bersama teman-teman santrinya keluar dari pesantren untuk buat program acara di kampung. Uniknya, oleh teman-temannya, “Saya terus disuruh tampil untuk ceramah.” Herannya, ia pun merasa mulai bisa ceramah. Bahkan, beberapa kali ia mendapatkan panggilan ceramah di kampung di luar kegiatan “Santri Keluar” tersebut. Dari situlah mental panggung Ust. Jufri semakin terasah.
Menolak Diajak Pergi Haji

Lulus dari Aliyah (1996), Ust. Jufri kuliah di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung sambil nyantri lagi di Pesantren Al Ihsan. Selama kuliah vakum, tidak ada kegiatan ceramah. Namun, tahun 1997 ia ditawari bapaknya untuk pergi haji. “Pak, saya ini calon guru. Daripada saya gak punya kerjaan, uang untuk haji buatkan saja untuk bangun madrasah,” pinta Ust. Jufri pada bapaknya. Ia menolak pergi haji karena merasa mentalnya juga belum siap. Akhirnya, oleh sang ayah uang untuk pergi haji itu dibangunkan madrasah. Ketika madrasah sudah jadi, “Saya pun bolak-balik dari Bandung ke sini (Ciangsana -red) untuk mengurus madrasah ini dua minggu sekali,” ujarnya. Dari situ pula, Ust. Jufri sebenarnya mulai belajar mengatur lembaga pendidikan yang kelak berguna saat ia membangun sebuah pesantren.

Tahun 2000 ia lulus kuliah. Setahun kemudian (2001), ia melamar calon istrinya yang juga putri kiayi saat ia jadi santri di Pesantren Sukabumi. Atas hal ini, putri kiayi itu berkelakar pada saya, “Ia tidak saja mengambil ilmu bapak saya, tapi juga putrinya.”

Sebelum menikah tahun 2002, Ust. Jufri tiga kali tampil ceramah tentang pernikahan. “Saya belum menikah tapi disuruh ceramah tentang pernikahan. Ya temanya juga katanya katanya,” ujarnya sambil tertawa lepas.
Tapi, pernikahan ternyata membawa berkah. Sejak itu ia mulai kebanjiran berdakwah. “Saya pernah disuruh ngisi ceramah ke Bekasi. Di tengah jalan kehujanan karena masih naik motor. Sampai di tempat saya pinjam bajunya Ustadz,” ujarnya mengisahkan awal perjuangannya sebagai pendakwah profesional.

Herannya, saat tampil ceramah, belum saja selesai sudah minta turun. “Saya diberhentikan di tengah jalan. Bukan karena lama ceramah saya, tapi karena siapa saya. Saya hanya ban serep dari orang lain,” kenangnya.

Pulang ceramah, ia pun diamplopin. Saat dibuka amplopnya, isinya 30 ribu rupiah. Meski sedikit kecewa, apalagi mengingat ia harus kehujanan untuk menuju tempat acara dan basah-basah bajunya, tapi ia mengambil hikmah dari peristiwa itu. Ia memakluminya, karena saat itu ia bukanlah siapa-siapa. Kata orang sih, “Belum jadi orang (terkenal -red),” ujarnya sambil kembali tertawa.
Masuk Dunia Keartisan

Terjun dalam dunia acting sebenarnya hal yang disukai Ust. Jufri. Bakat seninya didapatkan dari sang kakek, almarhum H. Ali Saneman yang kemudian turun ke bapaknya. “Bapak itu musik apa aja senang. Jaipongan, dangdut, rock, kasidah semuanya senang,” ujar Ust. Jufri. Meski begitu, ia sendiri merasa tak berbakat dalam menyanyi. “Saya tidak bisa nyanyi dan suara saya jelek,” akunya dengan jujur. Meski begitu, jiwa seni itu tetap mengalir padanya dalam bidang acting.

Suatu ketika ada audisi film Ketika Cinta Bertasbih. Ada jamaahnya yang kebetulan pencari talent (tukang casting) menawarkan kepada Ust. Jufri untuk ikutan casting. “Kamu jangan jadi ustadz kampung terus. Kamu harus kesohor,” pesannya pada Ust. Jufri.

Ajakan itu ditanggapi positif oleh Ust. Jufri. Maka ikutlah ia casting film itu. “Karena yang mengcasting jamaah saya, saya pun langsung diloloskan ke tingkat nasional (Jakarta), tidak lagi lewat daerah,” ceritanya.

Ketika casting di Jakarta, Ust. Jufri sempat masuk 10 besar untuk memerankan tokoh Furqon. Saat itu bersamanya ada aktor Dude Herlino. Namun, di 10 besar ini keduanya gugur. “Bedanya, kalau Dude tetap ikutan shooting dan saya tidak,” kenangnya.

Dalam casting itu, Ust. Jufri harus menghafal Surat Ar Rahman, Al Waqiah dan sebagainya. Namun, kegagalannya adalah saat ia menjawab dengan bahasa Arab tentang umbi-umbian yang bernama tales. Saat itu ia diminta menjelaskan tentang kota Bogor dalam bahasa Arab. Kemudian Ust. Jufri menjawab dengan bahasa Arab yang belepotan (seadanya), “Madinatul Bogor masyhurun bit-tales (Kota Bogor terkenal dengan Tales).”

“Ma huwa tales? (Apa itu tales),” tanya Kang Abik (Habiburrahman El Syirazi), salah seorang jurinya. Di sinilah Ust. Jufri tidak bisa menjawabnya. Ia pun gagal casting. Namun, ia kemudian dihampiri oleh Kang Abik, “Tales itu tidak ada bahasa Arabnya. Ini ‘kan hanya jebakan.”

Sebelum ikutan casting ini, Ust. Jufri sebenarnya sudah pernah tampil di TV One untuk mengisi ceramah Serba-Serbai Ramadhan bertemakan haji. “Belum haji, tapi berbicara tentang haji,” kenangnya. Tapi, hikmahnya, setelah itu ia diberangkatkan haji oleh orang.

Setelah itu, tahun 2010 Ust. Jufri ditelpon oleh produser Sinema Art untuk ikutan casting sinetron Surga dan Neraka. Namun, saat tayang judulnya berubah menjadi Berkah. Yang mengherankan, ia tak lagi dipanggil casting, hanya dua kesempatan alias dua sinetron saja.

Tiga tahun kemudian, tepatnya bulan November 2013, ia ditawari lagi untuk main sinetron sebagai ustadz di Catatan Hati Seorang Istri (CHSI). Sebelum casting, ia sempat ke Mekah dulu untuk umrah. Di sanalah ia berdoa, “Ya Allah, kalau CHSI ini membawa berkah buat saya, jadikan shooting ini.”

Bulan Maret 2014 Ust. Jufri mulai shooting perdana untuk sinetron CHSI. Akhirnya, sinetron inilah yang mendulang ketenaran seorang Ust. Jufri. Dari sinetron ini pulalah nama Ust. Jufri melekat padanya, menghilangkan nama aslinya Ust. Ahmad Rustandi dan nama panggungnya sebelum terkenal, Aa Anom. “Awalnya, semua kru tidak menduga sinetron CHSI ini akan meledak seperti sekarang,” cerita Ust. Jufri.

Kini, setelah terkenal, ia pun banjir undangan ceramah. “Saya pernah ke Hongkong, Bengkulu, dan sebagainya,” kenang Ust. Jufri.

Demikian kisah yang penuh inspiratif tentang sosok Ust. Rustandi atau Aa Anom yang kemudian lebih terkenal sebagai Ust. Jufri karena perannya di Catatan Hati Seorang Istri (CHSI). Atas kesuksesannya ini beliau pun membagi resepnya, “Jangan sekali-kali melupakan jasa orang, terutama guru kita.” Karena itu, meski sudah terkenal sebagai artis, ia berusaha untuk tetap ta’dzim (hormat) kepada para guru yang pernah mengajarkannya. Jika ada waktu, ia pun akan menyempatkan diri untuk main ke rumahnya.

Semoga kita bisa belajar darinya! Amien.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar