Label

Senin, 24 Agustus 2015

USTADZ EKO SUWONO (BANG JI'IH), MENJADI PENDAKWAH BERKAT DOA IBU

“Saya gak kuliah karena gak diizinin Emak. Kuliah sampai tinggi sekalipun kalau gak ada izin orang tua gak berkah. Saya bisa sampai di sini pun berkah doa orang tua.”

Foto: dokumentasi pribadi
Jika Anda ingin hidup sukses, berbaktilah pada kedua orang tua, terutama ibu. Inilah resep hidup sukses Ustadz Eko Suwono atau yang akrab dipanggil Bang Ji’ih. “Setinggi apapun pendidikan seseorang jika tak dapat restu orang tua, ilmunya tidak akan berkah,” ujarnya dengan penuh semangat khas gaya Betawi.

Ditemui usai mengisi tausiah dalam rangka halal bihalal di PT. Damtour, Depok pada 25 Juli 2015, Bang Ji’ih pun menuturkan kepada Hidayah perihal perjalanan hidupnya dari sosok yang dihina-hina oleh tetangga dan warga hingga dipuji dan mendapat respek yang tinggi usai penampilannya di televisi sebagai pendakwah.

Bang Ji’ih, namanya mulai berkibar usai keikutsertaannya dalam ajang Dakwah AKSI Indosiar setiap pagi selama bulan suci Ramadhan tahun 2013. Penampilannya yang khas, yakni berpakaian Pangsi (pakaian silat khas Betawi) ternyata mampu menarik perhatian pemirsa televisi. Atas penampilan ini pula nama Bang Ji’ih mulai melekat pada sosoknya. Bang Ji’ih adalah pendekar asli Betawi yang disegani pada masa penjajahan Belanda bersama si Pitung. Dalam keseharian, mereka selalu mengenakan pangsi.

Tapi, tahukah Anda? Sesungguhnya Ustadz Eko atau Bang Ji’ih bukanlah berasal dari keluarga kebanyakan seorang pendakwah. Alih-alih keturunan seorang kiayi atau ustadz, Bang Ji’ih justru berasal dari keluarga bajingan (preman). Meski bila dirunut hingga ke kakek-buyut, ia memiliki garis keturunan seorang kiayi.

Keluarga Bajingan

Bang Ji’ih sendiri tidak mengenal banyak tentang sosok ayahnya. Sebab, sang ayah meninggal dunia saat dirinya masih kecil. Namun, ia tahu (tentunya dari sang ibu) bahwa ayahnya adalah seorang preman di Tanjung Priok. Sehingga, keluarganya pun dicap sebagai keluarga bajingan.

Ketika ayahnya meninggal tahun 1993, cap itu masih melekat pada keluarganya. “Kami dihina dan dicaci-maki. Kalau kami datang ke rumah orang disangka mau pinjam duit. Mereka pun cuek dan mengabaikan kami,” terang Bang Ji’ih tentang masa lalunya.

Kisah memilukan itu semakin lengkap saat menyadari bahwa saat keciL dan remaja, Bang Ji’ih pun dianggap anak yang nakal. “Saat sekolah di SMP Negeri, kerjaan saya tawuran terus,” kenangnya.

Kenakalan Bang Ji’ih ini membuat sang ibu pun kerapkali dibuat mangkel (kesal). Sehingga, saat keluar dari SMP, Emak (panggilan Bang Ji’ih pada ibunya)-nya hanya bisa berujar, “Nak, Emak sudah gak sanggup biayain lu sekolah. Sudah! Lu gak usah sekolah, ngaji aja!”

Bang Ji’ih menangis mendengar kepasrahan Emak-nya. Mungkin dalam hatinya berkata, “Bagaimana saya jadi orang pintar jika tidak sekolah? Bagaimana saya bisa ngangkat keluarga jika jadi orang bodoh?”

Bang Ji’ih remaja pun berdoa kepada Allah, “Ya Allah, tunjukilah pendidikan-pendidikan ana (saya).”

Di tengah rasa galau yang menimpa Bang Ji’ih, tiba-tiba tetangganya pulang dari Pesantren Az-Ziyadah Klender, Jakarta Timur dan mengabari bahwa biaya sekolah di sana murah dan bisa dicicil selama tiga tahun.

Tanpa pikir panjang lagi, Bang Ji’ih pun pamit sama ibu untuk nyantri di Az Ziyadah. Singkat kata, Bang Ji’ih pun resmi jadi santri di sana.

Emak Bilang, “Kamu Gak Usah Kuliah”

Awal di pesantren dilalui Bang Ji’ih dengan lancar. Ketika naik kelas 2 Aliyah, kabar baik pun menghampirinya. “Saya diberikan beasiswa oleh Almarhum KH. Fadholi el Muhir (Pendiri dan Ketua Front Betawi Rembug [FBR] saat itu),” ujarnya.

Padahal, diakuinya, saat itu ia sedang bandel-bandelnya di pesantren. “Setiap hari saya distrap,” akunya. Distrap karena seringkali tidak bisa saat disuruh hafalan untuk pelajaran nahwu, sharf, mantiq, balaghah, dan sebagainya.

“Saya pun sering disuruh ngepel makam Abuya KH. Zayadi Muhadjir, pendiri Az-Ziyadah, sebagai hukumannya,” terang Bang Ji’ih.

Berkat beasiswa itulah, Bang Ji’ih berhasil menyelesaikan sekolah dan nyantrinya. Bahkan, beasiswa itu direncanakan berlanjut hingga Bang Ji’ih kuliah. Karena itu, ia pun pamit pada Emak-nya untuk kuliah.

“Emak, saya mau kuliah?” ujar Bang Ji’ih pada Emak-nya.

Bang Ji’ih berpikir bahwa emaknya pasti akan senang. Sebab, dengan kuliah ia akan bisa menaikkan level keluarganya ke derajat yang lebih baik -meski dengan dirinya jadi santri juga sudah ada tanggapan positif dari tetangga-tetangganya.

Ternyata, Emaknya menjawab di luar dugaan, “Kamu gak usah kuliah. Nanti siapa yang biayai hidup Emak?”

Bang Ji’ih pun sedikit terpukul dengan jawaban Emaknya. Namun, sebagai anak yang berbakti dan patuh pada Emak, dia pun menuruti perintah Emaknya tersebut. Bang Ji’ih pun gagal untuk kuliah. Akhirnya, untuk menghidupi keluarga, Bang Ji’ih pun bekerja. “Saya kerja di semua provider handphone. Saya belajar marketing,” ujar Bang Ji’ih.

Dengan bekerja itu, sementara kebutuhan Bang Ji’ih pun bisa terpenuhi. Dan di saat bersamaan, ia pun mulai mengisi pengajian-pengajian dakwah dari satu tempat ke tempat yang lain hingga banyak orang yang tidak berkenan dengan kegiatannya. “Sampai akhir 2012 ibu saya dihantam sampai muntah darah,” cerita Bang Ji’ih.

Rupanya, percaya atau tidak, Bang Ji’ih merasa ada orang yang mengirim santet pada keluarganya. Yang jadi korban, adalah Emaknya sendiri. Sang Emak pun pernah memintanya berhenti untuk berdakwah. “Nak, lu Ndak usah berdakwah. Emak sakit!” ujar Emaknya kala itu.

Menurut Bang Ji’ih, hampir setiap hari ada ular dan paku di sekitar rumahnya. Bang Ji’ih pun berdoa kepada Allah agar kiriman itu berbalik kepada yang ngirim. Tidak lama kemudian orang itu meninggal setelah sakit muntah darah selama 42 hari. Gurunya pun bilang, “Tuh orangnya (pelakunya -red), yang kemarin meninggal.”

Audisi AKSI Indosiar

Tahun 2012 Bang Ji’ih pernah ikut audisi Dai Muda ANTV. “Saya hanya masuk 42 besar,” akunya. Yang membuatnya gagal lolos adalah tes Bahasa Inggris. “Bahasa Inggris saya memang lemah,” jujurnya. Sementara tes Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia lolos.

Setelah itu, Bang Ji’ih bekerja di Pabrik Makarizo dengan sistem kontrak. Besok hari masa kontraknya mau habis. Bang Ji’ih sedikit bingung. Namun, di tengah kebingungan itu tiba-tiba sang teman mengabarinya sebuah berita penting. “Ko, lu besok habis kontrak. Mau gak iku dai?” ujar sang teman pada Eko yang saat itu sedang sift malam (Jam 1.30 WIB).

Dengan rendah hati, Ust. Eko atau Bang Ji’ih menjawab, “Gak bisa ceramah kalau gue mah.”

Tapi, setelah dipikir ulang, akhirnya Ust. Eko mendaftarkan diri juga ikut audisi AKSI Indosiar untuk pertama kalinya. Ketika mendaftar itu, cuaca sedang tidak mendukung. Namun, ia paksakan pergi juga. Untuk hal ini, ia pun mengisahkan pengalamannya, “Akhirnya, saya coba daftar. Di tengah hujan-hujanan saya pergi ke Indosiar sampai kaki saya diinjak-injak sekuriti karena ingin masuk ke dalam untuk daftar. Saya juga ditunjuk-tunjuk sama sekuriti.”

Beberapa hari sebelum audisi Bang Ji’ih didatangi Almarhum KH. Zaenuddin MZ dan Almarhum Ustadz Jeffry Al Bukhari. “Mereka nitip kota Jakarta ke ana (saya),” ujar Bang Ji’ih.

Saat audisi, Bang Ji’ih pun mengenakan pakaian habaib alias dandanan timur tengah, yakni pakai jubah. Namun, “Ketika masuk, yang dites itu bukannya Al Quran dan Al Hadits, tapi silat dan pantun,” kenang Bang Ji’ih. Bisa jadi, karena ia adalah orang Betawi.

Bang Ji’ih mengisahkan bahwa saat dirinya baru saja mengucapkan salam (Assalamu ‘alaikum) untuk audisi, ia langsung distop oleh tim juri audisi. “Antum mau cari apa? Saya cari penceramah yang ganteng banyak? Saya mau cari perwakilan Jakarta,” kata salah seorang tim audisi.

“Antum bisa apa?” katanya lebih lanjut.

“Asytaghfirullahal ‘adzim,” Bang Ji’ih hanya bisa mengeluh dalam hati.

Akhirnya, yang dites adalah silat dan pantun. Kebetulan, Bang Ji’ih bisa dalam kedua bidang ini. Jadinya, ia pun lolos audisi.

Mendengar anaknya lolos audisi, Emaknya sangat bangga sampai menangis. “Alhamdulillah cita-cita saya untuk ngangkat derajat keluarga yang dulu dikenal preman perlahan-lahan mulai terbuka,” kata Bang Ji’ih.

Baju Pangsi Selama Tampil

Bang Ji’ih pun siap untuk penampilan perdananya di AKSI Indosiar. Shooting jam 02 malam. Namun, pagi hari jam 10 sudah fitting baju di wardrobe sponsor. “Ana sudah pilih baju Ust. AlHabsyi. Pas ukurannya dan sudah ana gantungin,” cerita Bang Ji’ih.

Namun, pas mau shooting Bang Ji’ih dipanggil temannya, “Ko, suruh ke atas ketemu Produser?”

Di depan produser, Bang Ji’ih ditanya, “Kamu ke sini harus mewakili Jakarta. Kamu harus pakai baju pangsi.”

Bang Ji’ih tekejut dengan perubahan yang cepat itu. Ia pun minta pertimbangan gurunya.

“Bib, gimana nih?” ujar Bang Ji’ih dari balik telpon.

“Ikuti aja. Itulah dunia entertainment,” jawab sang guru. Bang Ji’ih harus segera mengganti baju yang dikenakannya dengan pangsi (pakaian silat khas Bewati). Sejak itulah Bang Ji’ih terus mengenakannya hingga ia tersingkir atau wassalam di babak tiga besar session pertama. Atas penampilannya itulah ia kemudian dikenal dengan sebutan Bang Ji’ih, merujuk pada sosok pahlawan asli Betawi yang kesohor pada masa penjajahan Belanda yang selalu mengenakan pangsi.

Muslim yang Musingin

Sejak penampilannya di televisi nama Bang Ji’ih semakin berkibar di daerah ibu kota khususnya. Banyak panggilan berdakwah untuk dirinya. Selama tiga bulan pernah honornya tidak ia buka dan tidak pula ia laporkan ke Emaknya. Emaknya pun merasa sedih.

“Ketika Emak saya sedih saya merasa berdosa sekali. Sejak itu panggilan dakwah saya jadi seret,” aku Bang Ji’ih dengan jujur. Padahal, Bang Ji’ih mengaku bahwa uang itu tak dipakainya, hanya disimpan saja. Kesalahannya, ia tidak berbagi kepada Emaknya sehingga sang Emak melihat anaknya mulai tidak jujur terhadap ibu kandungnya sendiri.

Bang Ji’ih pun minta maaf pada Emak. Emaknya bilang, “Nak, Emak gak butuh duit. Yang Emak inginkan kejujuran lu.” Amplop hasil berdakwah selama tiga bulan itu pun dibuka bareng-bareng di depan Emaknya.

Dari kasus inilah Bang Ji’ih semakin menyadari pentingnya doa orang tua, terutama ibu. Jangan pernah sekali-kali menyakitinya, meski tidak sengaja kita lakukan.

Setelah sempat seret, akhirnya Bang Ji’ih banyak menerima panggilan berdakwah kembali. Tercatat, bulan November 2015 nanti ia akan tampil bersama Mantan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dalam acara pencetusan Hari Wakaf Nasional. Desember-nya, ia juga sudah dicarter untuk ngisi di KBRI di India.

Pengajian I Like Monday di Pondok Indah yang pernah digagas oleh Almarhum Ust. Jeffry Al Bukhari dan sempat berhenti ketika beliau meninggal, kini dibuka kembali dan Bang Ji’ih yang pertama kali mengisi tausiahnya. Demikian juga pengajian Almarhum KH. Zaenuddin MZ yang sempat berhenti setelah kematiannya, dibuka kembali dan yang mengisi tausiahnya adalah Bang Ji’ih.

Menurut Bang Ji’ih yang punya IB Management dan 350 anak yatim ini, semuanya itu dikarenakan doa orang tua. Hingga kini ia tidak kuliah juga karena permintaan Emaknya. “Saya gak kuliah karena gak diizinin Emak. Kuliah sampai tinggi sekalipun kalau gak ada izin orang tua gak berkah. Saya bisa sampai di sini pun berkah doa orang tua,” ujar Bang Ji’ih.

Kini, sebagai seorang pendakwah yang sukses banyak tantangan yang harus dihadapinya. Salah satunya adalah menghadapi karakter muslim yang musingin. “Muslim itu ada dua: ada yang musiman, yaitu shalat setahun sekali. Ada juga yang musingin,” kata Bang Ji’ih.

Apa itu muslim yang musingin? Yaitu, muslim yang tidak shalat, zakat, puasa, tapi kerjaannya protes melulu. Muslim musingin juga mengatakan, “Saya sih gak perlu shalat. Yang penting, ingat sama Allah.” Nah, tantangan terberat Bang Ji’’ih dalam berdakwah adalah menghadapi karakter muslim seperti ini, yaitu Muslim yang musingin. Tapi, menghadapi orang seperti mereka, Bang Ji’ih tetap bersikap santun seperti dai pujaannya, Almarhum KH. Zaenuddin MZ.

Demikian perjalanan dakwah Ust. Eko Suwono atau yang akrab dipanggil Bang Ji’ih. Semoga kita bisa terinspirasi dari kisahnya! Amien.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar