Label

Senin, 24 Agustus 2015

TARIQ RAMADAN, SALAH SATU INOVATOR TERPENTING ABAD 21 VERSI MAJALAH TIME

“Usahanya yang tak kenal lelah mengenalkan pentingnya dialog Islam-Barat membuatnya diganjar penghargaan prestisius dari majalah Time.”

Dia begitu ditakuti oleh Presiden Barack Obama sehingga dilarang masuk Amerika Serikat, meskipun ia tidak membawa senjata. Namun, ia bebas keluar masuk ke negara-negara Eropa.

Mengapa Obama ketakutan? 

Pepatah bilang, “Pena itu lebih tajam daripada pedang” atau “Tulisan itu lebih mematikan daripada senjata”. Dengan kata lain, kekuatan kata-katanyalah yang ditakuti oleh Obama.

Mengapa kata-katanya menakutkan? Menurut Majalah L’Express, dialah tokoh yang memelopori gerakan politik Islam di Eropa. Dialah tokoh muda yang semakin diterima luas, baik di kalangan Muslim maupun non-Muslim, karena pandangan-pandangannya tentang posisi ummat Islam di benua itu. Majalah tersebut juga menyatakan keheranannya bagaimana cara ‘pria Muslim yang tampan’ ini mengambil hati dan mempengaruhi pikiran warga Perancis dan mendapatkan banyak perhatian dari media massa.

Siapakah tokoh kita yang satu ini? Dialah yang oleh majalah Time dinobatkan sebagai One of the 100 Most Important Innovators of the 21st Century (Satu dari 100 Inovator Terpenting Abad 21). Dialah Tariq Ramadan.

Tariq Ramadan adalah putra dari Said Ramadan dan Wafa Al-Bana, yang merupakan putri sulung dari Hassan al Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin di Mesir tahun 1928. Pamannya, Gamal al-Banna, adalah seorang pembaharu Muslim liberal terkemuka. Ayahnya adalah seorang tokoh terkemuka dalam Ikhwanul Muslimin dan diasingkan oleh Gamal Abdul Nasser dari Mesir ke Swiss, di mana Tariq dilahirkan pada 26 Agustus 1962.

Masa kecil Tariq dilalui di pengasingan dengan begitu getir dan kesulitan ekonomi. Ayahnya meninggalkan Mesir karena tekanan Nasser pada tahun 1954 menuju Damaskus, lalu ke Lebanon, kemudian ke Eropa. Tadinya sang ayah memilih London, tapi kemudian akhirnya tiba di Swiss (1958) di mana masyarakat Muslimnya masih sangat sedikit.

Tariq merasakan langsung betapa berat tantangan yang dihadapi iman ayahnya di lingkungan Barat. Tiga tahun setelah bermukim di Swiss berdirilah Islamic Center, dibantu pemerintah Arab Saudi. Waktu itu sang ayah berhubungan baik dengan Mohammad Natsir.

Tahun 1970-an ketika Tariq memulai masa remaja, sang ayah mengalami masa yang berat, sendirian dan tak punya uang. Waktu itu Tariq mulai berpikir untuk kembali ke Mesir saja, sampai akhirnya dia berkesempatan pulang ke Mesir. Tujuan utama ke Mesir adalah meletakkan pondasi keislamannya tanpa sekolah formal. Tariq mempercepat masa belajar yang seharusnya 5 tahun jadi 2 tahun. Waktu itu, Tariq punya banyak guru untuk berbagai disiplin ilmu: ‘Ulumul Quran, Tafsir, Hadits, bahasa Arab, Sirah Nabawiyah, dan lain-lain.

Setelah itu Tariq kembali ke Swiss untuk mempelajari Filsafat dan Sastra Prancis di tingkat Master dan gelar PhD dalam studi Arab dan Islam dari Universitas Jenewa. Ia juga menulis disertasi PhD pada Friedrich Nietzsche, yang berjudul Nietzsche sebagai Sejarawan Filsafat. Tariq kemudian belajar hukum Islam di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Kini, Tariq Ramadan adalah seorang Profesor Studi Islam Kontemporer di Universitas Oxford (Oriental Institute, St Antony College) dan juga mengajar di Fakultas Teologi Oxford. Dia juga Professor tamu di Fakultas Studi Islam (Qatar), Peneliti Senior di Doshisha University (Kyoto, Jepang) dan Direktur Pusat Penelitian Legislasi dan Etika Islam (Cile) (Doha, Qatar).

Selama hidupnya, Tariq banyak melakukan kegiatan untuk umat. Misalnya, ia ikut mendirikan Gerakan Globalisasi Alternatif (The Alter Globalization Movement), yang merupakan kristalisasi gerakan anti-globalisasi. Tariq dan kawan-kawannya menawarkan format globalisasi yang berlandaskan pembangunan berkelanjutan. Untuk itu, dia banyak berkeliling ke Afrika, Amerika Selatan, dan negara-negara miskin lainnya.

Selain itu, Tariq juga membina generasi baru yang bakal menjadi pemimpin Muslim di seluruh Eropa. Dalam setahun dia dan teman-teman men-training sekitar 300 pemuda Muslim antara usia 20-30 tahunan sampai yang seusianya. Mereka bertukar pikiran dan menyusun langkah-langkah konkret memperkuat wajah Muslim di Eropa.

Tariq mengajak mahasiswa dan para pemimpin Muslim untuk bergerak membangun generasi baru yang bercirikan dua hal: iman yang kuat untuk mengarahkan pemikiran yang kritis dan pemikiran yang kritis untuk membangun iman yang kuat.

Untuk melancarkan misi dakwahnya tersebut, Tariq banyak menerbitkan kaset mengenai isu-isu masa kini. Soalnya kebanyakan masyarakat tidak membaca, tapi mendengarkan. Sudah 120-an kaset rekaman yang dia hasilkan, berisi perbincangan mengenai semua topik yang berkembang di kalangan Muslim Eropa, termasuk hal-hal mendasar seperti ibadah, tafsir, dan lain-lain.

Selain itu, ia juga berusaha membangun pola baru hubungan antar-jama’ah dan masyarakat Muslim, dimulai dari negara-negara berbahasa Inggris, lalu merambah ke negara-negara berbahasa Prancis, Benin, Pantai Gading, sampai Mesir dan Kanada. Setiap kali bertemu setidaknya 200 orang hadir dan memiliki komitmen untuk mempererat dialog antar masyarakat dan jama’ah.

Terorisme dan Negara Islam

Sebagai cucu Hasan al-Banna, banyak yang mengira kalau pemikiran Tariq lebih mengarah kepada Islam garis keras. Kenyataannya tidak, ia justru berpikir cukup liberal. Ia lebih senang mengandalkan dialog untuk menyelesaikan persoalan baik dengan orang Barat maupun sesama Islam sendiri.

Bahkan, ia sendiri mengkritik cara berpikir umat Islam yang keras dan mengatasnamakan pemikiran kakeknya, Hasan al-Banna. Sebab, bagi Tariq, sang kakek tidaklah berpikir demikian. Sang kakek berjuang melalui pendidikan dan dakwah, bukan jalan perang atau kekerasan.

Atas dasar itulah, Tariq sangat menentang tindakan terorisme. “Kita harus mengatakan bahwa seluruh jenis terorisme adalah tidak Islami,” katanya kepada Radio 68H.

Karena itu, Tariq sangat menentang pemikiran pelaku teror itu yang menginginkan berdirinya sebuah negara Islam. Baginya, demokrasi adalah konsep yang ideal untuk Islam. “Memang, ada saja sebagian muslim yang suka mengutip ulama abad pertengahan mengatakan demikian. Menurut mereka, semua hal tersebut sudah dilaksanakan umat muslim, dan semua model yang ideal yang terbayangkan sudah termaktub dalam Al-Qur’an,” katanya.

Tariq menolak pendapat itu. Menurutnya, prinsip-prinsip negara memang dijumpai dalam Al-Qur’an, namun model-modelnya tidak pernah ada. Kita-lah yang harus membangun model-model tersebut, serta menciptakan definisi baru tentang itu. Contohnya syariat. Syariat bukan berarti panduan hukum. “Beberapa ulama di beberapa tempat muncul dengan definisi hukum dan yurisprudensi bahwa syariat adalah panduan hukum. Kita harus meredefinisinya, walaupun belum ada konsensus antara cendekiawan muslim tentang hal ini,” katanya.

Menurut Tariq, contoh usaha tersebut dapat dijumpai dalam bukunya yang berjudul Menjadi Modern Bersama Islam, cetakan Mizan, 2003.

Menurut Tariq, cara-cara penafsiran literal tidak akan banyak menolong kita untuk menghadapi tantangan-tantangan terbaru. Kenyataannya sekarang, kita harus menyaring prinsip-prinsip tersebut dari sumbernya, lalu berupaya untuk memahami dan mencarikan jalan keluar yang terbaik.

Tariq punya kisah tentang ini. Suatu ketika dia memberikan kuliah. Dalam kuliahnya itu dia menggunakan kata “demokrasi”. Usai kuliah, seorang mahasiswa menghampirinya lalu mengatakan tidak ada istilah demokrasi dalam Al-Qur’an. “Ya, tidak ada kata demokrasi dalam Al-Qur’an, namun prinsip-prinsip demokrasi jelas terkandung dalam Al-Qur’an,” jawab Tariq saat itu.

Karena itu, “Kita harus berpegang pada prinsip-prinsip itu,” ujarnya lebih lanjut kepada sang mahasiswa. Hal itu, kata Tariq, sama persis dengan konsep kewarganegaraan. Tidak ada kata-kata kewarganegaraan dalam Al-Qur’an. Hanya saja, Nabi Muhammad SAW jelas-jelas menyabdakan bahwa semua warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama. Apa artinya itu? Persamaan hak.

Demikian salah satu pandangan Tariq tentang Islam, terorisme dan negara Islam. Selama di Swiss dan negara-negara Eropa lainnya, dia senantiasa mengkampanyekan pentingnya dialog antar agama untuk bisa saling mengerti dan memahami satu sama lain. Salah satu tugas beratnya adalah membuat warga Eropa mengerti bahwa Islam bukanlah pengajur kekerasan. Ia sendiri sangat menentang segala tindakan kekerasan untuk alasan apapun.

Atas pemikirannya yang luar biasa itu, Tariq pun dianggap memberikan sumbangsih yang tidak sedikit terhadap keberadaan Islam di Eropa. Banyak orang-orang Eropa yang kagum dengan gagasannya dan semakin mengerti tentang Islam yang sebenarnya.

Atas kiprahnya itu, Tariq pun kadang dianggap berbahaya bagi sebagian kelompok yang lain di Eropa. Untuk hal ini, ia pun mengisahkannya sendiri. “Banyak juga orang yang menentang saya di Barat, bahkan dari kalangan Muslim. Dengan kalangan non-Muslim kami berdialog secara terbuka, tapi sebagian mereka juga mengatakan, orang ini berbahaya. Kata mereka, yang lebih berbahaya di kalangan Muslim sebenarnya justeru yang jenggotnya lebih pendek,” katanya.

Bahkan, menurut Tariq, baru-baru ini di sebuah koran terkemuka di Prancis bernama Liberation, ada sebuah tajuk yang menyebut, “Apa yang disebarkan Tariq adalah komunitarianisme (communitarianism). Anda salah, Tariq tidak menginginkan integrasi Muslim ke dalam Republik ini, ia ingin integrasi Republik ini ke dalam Islam.”

Namun, Tariq menganggapnya tidak serius tulisan itu. Baginya, itu adalah resiko seorang pejuang dan pendakwah di sebuah negara berbasis mayoritas non-Islam. Yang penting, hal itu tidak akan pernah menyurutkan langkahnya untuk terus memberi tahu kepada masyarakat Barat bahwa Islam sesungguhnya adalah agama yang cinta damai, punya toleransi yang tinggi dan sebagainya.

Atas usahanya yang tak kenal lelah itu, majalah Time pun menganugerahinya “One of the 100 most important innovators of the 21st century” (satu dari 100 inovator terpenting Abad 21).

Semoga ada generasi-generasi baru berikutnya yang bisa mengikuti jejaknya! Amien.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar