Label

Senin, 24 Agustus 2015

SUSAN CARLAND, PERAIH AUSTRALIAN MUSLIM OF THE YEAR TAHUN 2004


“Kamu boleh menikah dengan pengedar narkoba sekalipun, asalkan jangan menikah dengan seorang Muslim,” pesan ibu kepada Susan.

Bagi seorang wanita, nampaknya sulit sekali mendapatkan gelar prestisius sebagai tokoh muslim paling berpengaruh di negaranya (Australian Muslim of the Year), mengalahkan para lelaki. Tetapi, itulah yang terjadi pada tokoh muslimah kenamaan di Australia bernama Susan Carland. Seorang wanita cantik yang bersuamikan Waleed Aly dan telah memiliki dua orang anak ini.

Ya, pada tahun 2004 Susan mendapatkan penghargaan sebagai tokoh muslim paling berpengaruh di Australia. Sejak itu, sosoknya semakin dikenal luas di seluruh penjuru Negeri Kangguru, bahkan hingga ke negeri tetangga.

Penghargaan itu diberikan, tentu saja atas segala usahanya dalam mengembangkan Islam di sana. Salah satunya, adalah program Salam Cafe yang digagasnya. Program ini ditayangkan di televisi secara nasional dan bisa dinikmati oleh para pemirsa baik yang beragama Islam maupun non-Islam. Dengan program ini, ia banyak menerima penghargaan.

Selain membuat program televisi, Susan juga aktif sebagai pengisi seminar tentang keislaman dan juga pendakwah. Ia sering diundang sebagai pembicara di gereja, sekolah-sekolah, organisasi bisnis, organisasi kemasyarakatan bahkan komunitas Yahudi. Ia juga aktif di berbagai lembaga penelitian.

Atas kiprahnya itu, tak heran jika ia terpilih sebagai tokoh Muslim Australia tahun 2004 dan mendapatkan hadiah sebesar 2.000 dollar yang ia sumbangkan ke berbagai lembaga amal, baik lembaga muslim maupun non-Muslim.

Tapi, tahukah Anda? Sesungguhnya, Susan itu hanyalah seorang muallaf.
Pemeluk Kristen yang Taat

Susan terlahir dari keluarga Kristen yang taat. Meski kedua orang tuanya bercerai pada saat usianya 7 tahun (Susan ikut ibunya), tetapi tak menyurutkannya untuk menjadi pengikut Kristen yang taat kala itu.

Ketaatan itu nampak dari upaya sang ibu untuk menjadikannya wanita yang dekat dengan Yesus dan gereja. Bahkan, sejak kecil Susan diharuskan aktif dalam kegiatan gereja dan mengikuti sekolah Minggu.

Namun, entalah, apa sebabnya? Saat usianya menginjak 12 tahun, ia memutuskan untuk berhenti dari kegiatan gereja dan sekolah Minggu. Nampaknya, dirinya ingin semakin bebas. Jiwa remajanya kala itu, seperti memberontak dan tak ingin terkukung dalam aktivitas formal di gereja setiap saat. Baginya, yang penting ia masih ingat dengan Yesus dan Al Kitab. ”Saat itu, saya beralasan saya tetap percaya kepada Tuhan meskipun tidak ke gereja,” ujar Susan.

Lagi-lagi, entahlah, alasan apa lagi? Tak lama kemudian, Susan ingin kembali lagi ke gereja. Nampaknya, rasa ingin tahunya yang besar tentang Tuhan (Yesus) mendorongnya untuk aktif lagi di kegiatan gereja. Ia pun bergabung dengan sebuah komunitas yang lebih toleran di gereja, dibandingkan yang pernah ia masuki. Meski aktif lagi sebagai aktivis gereja, namun Susan juga aktif di kegiatan ekstrakulikuler di sekolahnya seperti ikut kelas balet dan lain sebagainya.

Saat aktif kembali di gereja inilah ia menemukan “kebingungan” soal konsep ketuhanan. Sebab, ia mendengar orang-orang di sekitarnya yang mengaku bisa berbicara dengan Tuhan dalam bahasa Roh. Fakta ini tentu saja mengejutkannya, yang memang lagi getol mempelajari soal ketuhanan.
Mempelajari Agama Lain

Pada usia ke-17 tahun, Susan rupanya membuat gebrakan baru. Ia ingin menyelidiki agama-agama yang lain, selain Kristen. Herannya, justru agama Islam ditempatkan paling akhir, bahkan tidak menjadi prioritas. ”Agama Islam saat itu tidak masuk dalam daftar teratas karena agama ini bagi saya terlihat asing dan penuh dengan kekerasan,” ungkapnya.

Tampaknya, phobia Islam begitu kuat pada sosok Susan kala itu. Islam sebagai agama yang menganjurkan kekerasan dan tidak cinta damai nampaknya begitu kuat mempengaruhi pikirannya. Hal itu dimaklumi, karena Susan belum tahu banyak tentang agama Islam yang sebenarnya. Ia hanya tahu Islam sebatas pada penjelasan-penjelasan yang ia baca di buku ensiklopedia anak-anak dan dalam film berjudul Not Without My Daughter.

Yang paling kuat mempengaruhi dirinya tentang Islam tentu saja ibunya sendiri. Masih ingat di pikirannya bagaimana sang ibu pernah berkata, “Kamu boleh menikah dengan pengedar narkoba sekalipun, asalkan jangan menikah dengan seorang Muslim.” Atas pertimbangan ini, Susan pun menyisihkan agama Islam dalam upayanya mempelajari agama-agama lain selain Kristen.

Namun, bagaimana akhirnya ia memutuskan menjadi seorang Muslimah? Susan sendiri tidak bisa menjelaskannya secara rinci, hal apa yang membuatnya tertarik pada Islam. Yang jelas, Islam adalah agama yang penuh kedamaian dan kelembutan. Kebalikan dari apa yang pernah ia dengar tentang Islam sebelumnya.

Kepada harian The Star, ia mengaku bahwa ia tidak pernah merancang dirinya untuk masuk Islam. ”Hari itu, saya menyetel televisi dan mendapati diri saya sedang asyik menyaksikan sebuah program mengenai Islam,” ujarnya. Sejak saat itu, berbagai artikel mengenai Islam di koran dan majalah selalu menarik perhatiannya. Tanpa disadarinya, ia mulai mempelajari agama Islam.

Dalam proses menggali agama Islam itulah, ia justru menemukan nilai-nilai kedamaian dan kasih sayang yang diagung-agungkan oleh Islam. Hal ini tentu saja mengejutkannya. ”Agama ini jauh berbeda dibandingkan agama-agama yang pernah saya pelajari dan selidiki,” ungkap Susan penuh ketakjuban.

Secara intelektual, agama Islam juga meyakinkan pikirannya. ”Dalam Islam, ternyata tidak mengenal yang namanya pemisahan antara pikiran, tubuh, dan jiwa seperti halnya yang pernah saya pelajari dalam agama Kristen,” papar dosen sosiologi Universitas Monash, Australia, ini menjelaskan.

Berawal dari situ, Susan bertekad bulat untuk memeluk Islam. Maka resmilah ia menjadi seorang muslimah. Satu lagi, persoalan yang harus ia lakukan. Bagaimana sikapnya terhadap sang ibu yang telah mendidiknya sejak kecil? Apakah ia harus menyembunyikan keislamannya terus-menerus hingga sang ibu tahu sendiri ataukah mengumumkannya secara terang-terangan?
Dilema Menjadi Muslimah

Susan berada dalam dilema yang besar. Ia tahu bahwa sang ibu adalah penganut agama Kristen yang taat. Bagaimana jika ia tahu bahwa anaknya yang dididik secara taat dengan nilai-nilai Kristiani sejak kecil, justru beralih menjadi pengikut agama yang dibencinya, yaitu Islam?

Susan bingung. Namun, takdir berkata lain. Rahasia yang ditutupinya rapat-rapat terbongkar juga ketika ibunya mengadakan jamuan makan malam dengan menu hidangan utama daging babi. ”Saat itu, saya mengalami dilema, antara mesti mengumumkan soal keislaman saya atau memakan makanan haram itu,” ujar Susan mengenang peristiwa itu.

Dalam kebimbangan tersebut, ia pun berterus terang. Tanpa disangka, reaksi yang ditunjukkan ibunya sungguh membuatnya terkejut. Bukan kemarahan dan cacian, melainkan tangisan dan pelukan erat dari sang ibunda yang diterimanya. Amazing!

Beberapa hari setelah insiden makan malam tersebut, Susan memutuskan untuk mengenakan jilbab. Menurutnya, menutup kepala merupakan kewajiban bagi seorang Muslimah. Karena, hakikatnya, Islam mengatur segala aspek dalam kehidupan manusia.

Bagi Susan, banyak manfaat yang dirasakan dengan menutup aurat. “Selain sebagai sebuah peringatan agar lebih mendekatkan diri kepada-Nya, juga menjadikan wanita Muslim sebagai duta Islam,” ujarnya.

Susan menyelesaikan studinya hingga mencapai gelar PhD. Ia melakukan riset tentang tantangan yang dihadapi kaum perempuan muslim dalam masalah kepemimpinan. Susan sekarang menjadi dosen dan tutor di School of Political and Social Inquiry di Universitas Monash, Melbourne, Australia, untuk bidang studi gender, pemuda dan sosiologi agama. “Saya mencintai Islam dan Muslim, tanpa keraguan. Orang-orang yang paling mengagumkan dan paling inspiratif yang pernah saya temui adalah kaum Muslimin, dan hal itu membantu saya untuk tidak menarik diri sama sekali dari tengah masyarakat,” tutur Susan.

Susan menikah dengan seorang lelaki muslim pada Februari 2002. Ia menggelar pesta pernikahannya di kebun binatang Melbourne. Suaminya seorang pengacara bernama Waleed Aly, yang juga menjabat sebagai dewan eksekutif Islamic Council of Victoria. Aly, muslim keturunan Mesir yang lahir di Australia itu juga menjadi dosen di Universitas Monash dan bekerja di Global Terrorism Research Centre. “Ketika saya masuk Islam, saya dan Waleed belum bertemu. Saya masih seorang diri. Kami memutuskan menikah beberapa tahun setelah saya menjadi seorang muslimah,” tukas Susan.

Ditanya tentang perjalanan spiritualnya setelah masuk Islam, Susan mengungkapkan bahwa ia merasakan sebuah kebebasan intelektual. “Saya mengawalinya dengan ikut masuk dalam ruang chatting Muslim di internet. Saya berkenalan dan menjalin komunikasi dengan beberapa muslimah yang sedang menimba ilmu di universitas saya. Mereka dengan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan saya,” ujar Susan.

Ia melanjutkan, “Ketika saya membiarkan agama bicara untuk dirinya sendiri melalui tradisinya, melalui para ulama dan teks-teks suci, untuk melawan apa yang ditulis para wartawan di tabloid-tabloid dan perilaku muslim yang menggemparkan, saya menemukan bahwa Islam adalah agama yang penuh kedamaian, egalitarian, berkeadilan sosial dan keseimbangan yang indah antara spiritual dan intelektual.”

Meski begitu, diakuinya, bahwa menjadi seorang Muslimah di negeri yang mayoritas beragama Kristen itu tidaklah mudah. Susan sering berhadapan dengan kemarahan khalayak ramai. Tak hanya itu, ia pun dijauhi teman-temannya. Bahkan, Susan juga kerap mendapatkan penghinaan di depan umum terkait dengan jilbab yang menutupi kepala dan rambutnya.

Kini semuanya berubah. Setelah sembilan tahun berislam, Susan mempunyai teman-teman yang bukan saja berasal dari kalangan Muslim, tetapi juga dari non-Muslim. Dengan busana Muslim yang membalut tubuhnya, ia bebas mengajak anaknya berjalan-jalan di taman kota ataupun bermain di dekat danau, tempat semasa kecil ia sering diajak ibunya untuk memberi makan bebek.

Begitupun ketika ia pergi mengajar ke kampus dengan mengendarai VW Bettle warna merah muda yang biasa disapanya dengan panggilan Gus, tidak ada lagi tatapan sinis dari orang-orang di sekelilingnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar