Label

Minggu, 23 Agustus 2015

SHAIKH ALI JUM'AH, KONSISTEN MELAWAN RADIKALISME ISLAM

“Lewat pena, ia berusaha terus meluruskan cara berpikir muslim yang ekstrim. Ia pun sangat disegani baik oleh lawan maupun kawan.”
Semakin maraknya kelompok Islam yang bergaris keras bermunculan membuat Shaikh Ali Jum’ah gerah juga. Lewat karya terbarunya yang diterjemahkan dengan judul “Bukan Bid’ah” (diterbitkan oleh Lentera Hati), beliau kembali mengkritik cara berpikir kelompok Islam garis keras, seperti yang sering dipraktekkan oleh kelompok Ikhwanul Muslimin, Wahabi (Salafi) dan semacamnya. Buku ini sangat mendapatkan tempat di hati pembaca. Di Mesir buku ini langsung ludes terjual sejak kemunculannya. Bahkan, di Indonesia sendiri buku yang diberikan kata pengantar oleh Prof. Dr. Quraish Shihab ini sudah mengalami tiga kali cetak ulang sejak tahun 2012.
Nama lengkapnya adalah Abu Ubadah Nuruddin Ali bin Jum`ah bin Muhammad bin Abdul Wahhab bin Salim bin Abdullah bin Sulaiman al-Azhari al-Syafi`i al-Asy`ari. Beliau lahir di kota Bani Suef pada hari Senin, 7 Jumadil Akhir 1371 H/3 Maret 1952 M.
Beliau terlahir dari keluarga yang terhormat. Ibunya adalah Fathiyah Hanim binti Ali bin `Id, seorang wanita yang dikenal berakhlak baik, selalu menjaga salat dan puasa sejak masuk usia baligh. Ibunya meninggal dengan doa kepadanya dengan ilmu dan kebaikan. Ayahnya adalah Syeikh Jum`ah bin Muhammad, seorang ahli fikih lulusan dari Fakultas Hukum Universitas Kairo.
Shaikh Ali Jum`ah dibesarkan dalam didikan kedua orang tuanya, diajarkan tentang ilmu dan takwa, diajarkan akhlak dan kemuliaan. Sejak kecil telah terbiasa dengan banyaknya buku di perpustakaan ayahnya, bahkan hingga saat ini banyak dari buku warisan ayahnya masih tersimpan dengan baik di perpustakaan pribadi beliau.
Beliau memulai perjalanan intelektualnya pada umur lima tahun. Beliau mendapatkan ijazah madrasah ibtidaiyah pada tahun 1963 dan mendapatkan ijazah madrasah tsanawiyah pada tahun 1966 di kota Bani Suef. Di sana beliau menghafalkan al-Quran kepada beberapa syaikh hingga selesai pada tahun 1969.
Setelah menamatkan MTS pada tahun 1966, beliau berpindah ke kota Kairo bersama kakak perempuannya yang masuk ke Fakultas Arsitektur di Universitas Kairo. Syeikh Ali Jum`ah muda menamatkan jenjang pendidikan madrasah aliyah pada tahun 1969. Kemudian masuk ke Universitas `Ainu Syams dan mendapatkan gelar sarjana di Fakultas Perdagangan pada bulan Mei 1973.
Setelah mendapatkan gelar sarjana kemudian beliau belajar di al-Azhar, di sana beliau bertemu dengan para guru dan masyayikh. Kepada mereka beliau menghafal berbagai kitab ilmu-ilmu dasar, seperti kitab Tuhfatul Athfal dalam Ilmu Tajwid, kitab Alfiyah Ibnu Malik dalam Ilmu Nahwu, kitab al-Rahabiyah dalam Ilmu Waris, kitab al-Ghayah wa al-Taqrib dalam Ilmu Fikih, al-Mandzumah al-Bayquniyah dalam Ilmu Mustalah Hadis, dan beberapa ilmu dasar lain yang menjadi awal batu loncatan beliau dalam melangkah kepada jenjang yang lebih tinggi lagi.
Beliau mendapatkan gelar sarjana (license) dari Fakultas Dirasat Islamiyah wa al-`Arabiyah Universitas al-Azhar Kairo pada tahun 1979. Kemudian beliau melanjutkan pendidikannya di kuliah pascasarjana Universitas al-Azhar Kairo di Fakultas Syari`ah wa al-Qanun dengan spesifikasi Usul Fikih hingga mendapatkan gelar Master pada tahun 1985 dengan peringkat cum laude. Kemudian beliau mendapatkan gelar Doktor pada bidang yang sama dari universitas yang sama pada tahun 1988 dengan peringkat summa cum laude. Di samping itu juga beliau selalu menghadiri majlis ilmu di masjid al-Azhar mempelajari berbagai macam cabang ilmu dari pengajian di sana.

Guru, Karya dan Kata Murid
Shaikh Ali Jum’ah pernah berguru kepada puluhan syekh, mahaguru, profesor, dan sebagainya. Semua guru itu adalah ahli di bidangnya. Sebut saja misalnya Syeikh Abdullah bin Siddiq al-Ghumari, seorang pakar hadis pada zamannya, yang telah menghafal lebih dari lima puluh ribu hadis lengkap dengan sanadnya. Di mata gurunya, Shaikh Ali Jum’ah adalah salah satu muridnya yang terpandai di Mesir dan ia sudah bisa memberikan fatwa karena kepintarannya.
Guru lainnya bernama Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah, seorang ulama yang terkenal dengan keluasan ilmunya pada saat itu. Kepadanya beliau membacakan kitab al-Adab al-Mufrad karya Imam Bukhari.
Beliau juga pernah berguru kepada Syeikh Jadurrabi Ramadhan Jum`ah,  yang dikenal dengan sebutan “Syafi`i Kecil” karena keluasan ilmunya dan keahliannya dalam bidang fikih mazhab Imam Syafi`i. Shaikh Ali Jum`ah belajar fikih Syafi`i kepadanya, begitu juga belajar kitab al-Asybah wa al-Nazair tentang kaidah fikih karya Imam Suyuthi hingga beliau menghafalkannya. Syeikh Jadurrabbi suatu saat pernah berkata kepada Shaikh Ali Jum`ah di hadapan kawan-kawannya, “Penamu ini lebih baik dari penaku.”
Beliau juga berguru kepada Syeikh al-Husaini Yusuf al-Syeikh (guru besar ilmu Syariah dan Usul Fikih di al-Azhar) dan Syeikh Abdul Aziz al-Zayyat (di hadapannya membacakan kitab Mughni Muhtaj Syarh al-Minhjad, kitab Fiqh madzhab Syafi'i). Masih banyak lagi guru Shaikh Ali Jum’ah semasa mencari ilmu. Semua ini menunjukkan betapa haus dan rasa cinta beliau terhadap ilmu pengetahuan.
Soal karya, Shaikh Ali Jum’ah juga telah menghasilkan puluhan karya yang bermanfaat untuk umat. Salah satunya adalah al-Mustalah al-Usuli wa al-Tatbiq ‘ala Tarif al-Qiyas, al-Hukm al-Shar’i 'inda al-Ushuliyyin, al-Imam al-Syafi’i wa Madrasatuhu al-Fiqhiyyah dan tentunya Al-Mutasyaddidun: Manhajuhum wa Munaqasyat Ahamm Qadhayahum (yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Bukan Bid’ah).
Dengan kualitas keilmuwan yang mumpuni di atas, maka Shaikh Ali Jum’ah pun digadang-gadang sebagai salah seorang ilmuwan terbaik masa kini yang dimiliki umat Islam, khususnya kalangan Sunni. Syekh Usamah Sayyid al-Azhari, salah seorang murid setia beliau, menulis: “Beliau (semoga Allah meridhainya) datang ke masjid al-Azhar selepas terbit matahari, kemudian duduk di sana membuka pelajaran hingga tiga jam lebih setiap harinya. Mengajarkan berbagai macam cabang ilmu dari hadis, usul fikih, fikih, qiraah, dan berbagai cabang ilmu lain.”
“Allah telah menghidupkan kembali ilmu dan majlis ilmu di al-Azhar melalui beliau. Di al-Azhar kembali dibacakan buku-buku hadis, fikih, usul fikih, bahasa arab.”
“Setelah lama saya memperhatikan kecerdasan dan pemahaman beliau, saya melihat kemampuan beliau yang luar biasa dalam menyelesaikan permasalahan kontemporer dan kemampuannya dalam mengklarifikasinya terhadap pendapat-pendapat para ulama.”
Masih banyak lagi komentar para ulama tentang keilmuwan Shaikh Ali Jum’ah baik dari kalangan muridnya sendiri ataupun guru-gurunya. Beliau pun sangat disegani baik oleh kawan maupun lawan.
Dijuluki Mufti Askar (Mufti Militer)
Syaikh Ali Jum'ah adalah mantan Mufti Agung Republik Arab Mesir. Kedudukannya sangat dihormati di kalangan ilmuwan dan rakyat Mesir sendiri. Meski begitu, ada saja orang yang kurang suka terhadap sosoknya, termasuk dari kalangan Islam garis keras, seperti Ikhwanul Muslimin atau Wahabi. Sebab, selama ini beliau senantiasa mengkritik mereka dan sering membuat karya untuk melawan mereka. Tulisan terbarunya yang berjudul “Bukan Bid’ah” menunjukkan konsistensinya melawan arus pemikiran Islam garis keras yang melarang tradisi ahlus-sunnah waljamaah seperti Maulid Nabi, Ziarah Kubur, Tabarruk, dan sebagainya.
Dengan begitu, Shaikh Ali Jum’ah pun seringkali mendapatkan tuduhan dan fitnah yang tak berdasar seperti dicap sebagai orang Syiah. Tuduhan ini sengaja disebarkan oleh kalangan Islam garis keras untuk membunuh karakter beliau yang memang seorang Ulama Sunni yang sangat disegani.
Selain itu, beliau juga pernah dituduh oleh kalangan Islam garis keras sebagai ‘Mufti Askar’ (Mufti Militer). Mengenai tuduhan ini, Syekh Ali Jum’ah menanggapinya dengan nyantai. Ia justru mengatakan, julukan itu menunjukkan bahwa militer Mesir sangat agamis (taat beragama). Beliau menegaskan bahwa siapapun yang menyerang militer, polisi, atau instansi negara apapun, maka dia adalah seorang Khawarij. Beliau juga menafikan legitimasi Mohamed Morsi saat ini. Menurutnya, Jamaah Ikhwanul Muslimin telah gagal mendidik anak-anak mereka. Oleh karenanya banyak dari anak-anak mereka yang menyimpang dan fasiq.
“Kalimat mufti militer yang disematkan kepada saya memiliki banyak arti, salah satunya menunjukkan bahwa militer Mesir sebenarnya taat beragama. Bahkan kata ‘jenderal’ yang disematkan kepada saya oleh sebagian orang memiliki makna seorang pejuang yang cerdas,” ungkap Shaikh Ali Gomaa, nama lain dari Shaikh Ali Jum’ah, dalam wawancaranya di acara ‘mumkin’ yang disiarkan pada Rabu sore di channel BBC, sebagaimana dilaporkan oleh harian almasryalyoum.
Untuk membantah orang yang mengatakan bahwa beliau telah keluar dari peran seorang ulama agama, dan beralih menjadi seorang militer, beliau menjawab: “Sungguh sangat buruk orang yang mengatakan hal itu kepada saya. Saya mencintai militer karena mereka telah mengembalikan kemuliaan kita bangsa Mesir tahun 1973. Adapun sosok seperti Al-Qardhawi, maka kami tidak menyukainya, karena dia telah menghina Mesir.”
Shaikh Ali Jum’ah menegaskan bahwa cinta tanah air sama sekali tidak menjadi prioritas orang-orang yang berafiliasi kepada Jamaah Ikhwanul Muslimin. Buktinya, mereka sangat senang saat timnas sepak bola Mesir kalah melawan timnas Ghana. Sebelumnya, mereka juga senang dengan kekalahan militer Mesir melawan Israel pada tahun 1967. “Kami belum pernah melihat seorang pun dari orang-orang Ikhwanul Muslimin selama 40 tahun terakhir yang mengatakan ‘Kami mencintai Mesir’.”
Mengenai tragedi yang beliau alami di Cairo University, yang dilakukan oleh para kader Ikhwanul Muslimin, beliau mengatakan: “Yang terjadi bukan demonstrasi damai, namun itu adalah tindakan anak-anak jalanan. Itu artinya, mereka telah gagal mendidik anak-anak mereka. Saat itu, mereka semua berdemo dengan mengangkat simbol masuni (empat jari), dan menyatakan bahwa mereka tidak berafiliasi kepada Ikhwanul Muslimin.”
“Sikap dusta yang diajarkan oleh orang-orang Ikhwan kepada anak-anak mereka sungguh sangat menyedihkan. Ini tidak pernah ada pada generasi pertama orang-orang Ikhwan. Mereka juga pendusta, tapi tidak sampai separah saat ini,” ungkap Shaikh Ali Jum’ah.
“Para orang tua dalam jamaah Ikhwanul Muslimin sibuk berdakwah kepada manusia, namun anak-anak mereka sendiri tidak terdidik dan terurus. Sungguh banyak sekali dari mereka yang menyimpang dan fasik,” tambah Shaikh Ali Gomaa.
Shaikh Ali Jum’ah menafikan bahwa Mohamed Morsi masih memiliki legitimasi, “Mohamed Morsi sudah tidak memiliki legitimasi lagi. Karena legitimasinya telah dicabut oleh rakyat.”
Demikian sosok Shaikh Ali Jum’ah yang terang-terangan membuka genderang perang terhadap Ikhwanul Muslimin (dan semacamnya seperti Wahabi) yang dianggapnya sebagai biang kerok perpecahan di tengah umat Islam, khususnya rakyat Mesir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar