Label

Senin, 24 Agustus 2015

SAMIRA EL KHAFIR, CHEF MUSLIMAH ASAL AUSTRALIA

“Saya rasa Samira adalah panutan baik bagi kaum Muslim. Ia bisa berada di mainstream dan memberi gambaran positif,” ucap Amal Elsabrouty, penggemar Samira.

Tubuhnya tambun, murah senyum dan berjilbab. Dia tampak berbeda dengan peserta lainnya. Kehadirannya mungkin dipandang sebelah mata. Maklum, dia adalah ahli terapi kecantikan. Tapi, kok nekad ikut kompetisi kuliner sekaliber MasterChef di Australia.
Tapi, perlahan ia bisa membuktikan bakatnya dalam bidang memasak. Orang-orang pun mulai meliriknya. Dia mulai banyak penggemar, tidak saja dari kalangan Muslim tapi juga Kristen. Akhirnya, dia pun benar-benar bisa sampai di puncak (final). Meski akhirnya ia kalah di final (juara 3) dari Emma Dean (juara 1) dan Lynton Tapp (juara 2), tapi namanya sudah dikenal di dunia entertainment Australia, apalagi dunia kuliner. Dia pun menjadi selebriti kuliner yang membanggakan warga Muslim yang minoritas di sana.
Dia adalah Samira el Khafir. Seorang muslimah Australia keturunan Libanon. Tahun 2013 ia mengikuti ajang kontes memasak bernama MasterChef. Dengan latar belakang sebagai ahli kecantikan, rasanya agak aneh juga ia mengikuti ajang ini. Namun, hobinya dalam bidang memasak tak bisa menghentikannya untuk ikut berkompetisi. Akhirnya, aksi nekadnya itu membuahkan hasil. Sebab, ia telah mencapai babak puncak dari kompetisi itu. Suatu hal yang mungkin tak bisa dibayangkan oleh orang lain, termasuk Samira sendiri.
Namun, penampilan Samira di ajang MasterChef ini bukan tanpa adanya nada miring. Di mana saja selalu ada hatters. Dan hatters secara tidak langsung merupakan pendukung yang tersembunyi. Ia mendapat kritikan saat menerima tantangan untuk memasak berbahan babi. Kita tahu sendiri bahwa babi adalah makanan yang diharamkan dalam Islam dan Samira adalah seorang muslimah. Tapi, saat MasterChef menggunakan babi sebagai bahan untuk memasak, Samira tetap melakukannya.
Samira mengakui bahwa dalam kondisi demikian, ia tak bisa berbuat apa-apa. Yang ia lakukan hanyalah mengikuti aturan yang diberlakukan oleh MasterChef. Tugasnya hanyalah memasak sebaik-baiknya sehingga rasanya bisa lezat dan nikmat. Meski begitu, Samira sendiri menyadari keharaman babi tersebut sehingga meski ia memasak, tapi tak sampai menyicipi, apalagi memakannya. Itu hanya sebuah kompetisi.
Bahkan, ada sebagian Muslim juga yang kurang suka dengan kehadiran Samira di ajang tersebut. Yaitu, mereka yang tidak ingin melihat kaum perempuan muslimah eksis di dunia gemerlap semacam entertainment. Mereka yang berpikir kolot tentang perempuan. Mereka menilai Samira seharusnya tidak tampil di televisi. Atas hal ini Samira pun menanggapinya demikian, “Pada akhirnya hanya Tuhan yang bisa menghakimi saya sebagai seorang manusia.”
Lebih lanjut ia mengatakan, “Saya tampil dalam acara memasak, bukan acara agama. Saya ikut tidak untuk dinilai perihal agama saya, melainkan makanan saya.”
Diakui Samira bahwa menjadi seorang muslimah di Australia itu gampang-gampang susah. Namun, jika dijalani dengan penuh rendah hati, maka semuanya akan menjadi mudah. “Tak terlalu sulit menjadi seorang Muslimah dan juga seorang selebriti di Australia, asal tak besar kepala,” tutur Samira.
Samira pun ingin mengajak kepada teman-temannya yang beragama Islam untuk berani menampilkan identitas keislamannya. Tak perlu takut dan ragu. “Saya mempertahankan keimanan dan latar belakang budaya saya. Saya percaya bahwa seseorang seharusnya tidak mengingkari asal usulnya,” ucapnya.
Bahkan, dengan berani menonjolkan sisi keislamannya dalam sebuah acara besar, Samira mengaku bahwa ia telah bangga dan menemukan jati dirinya. “Itu membantu saya menemukan diri sendiri, yaitu seorang Muslimah keturunan Timur Tengah berkebangsaan Australia. Dan alhamdulillah, saya seorang selebriti.”
Status selebriti tersebut juga membuka pikiran orang tentang kaum Muslim. “Banyak yang berkata, ‘Kami baru sadar, ternyata kaum Muslimah bisa memakai kerudung berbagai warna, dan kami baru sadar, ternyata kaum Muslimah bisa memiliki pendapat masing-masing,” katanya.
Samira mengaku tak begitu mengenal masakan Indonesia, karena menurutnya di Melbourn tidak terlalu banyak restoran yang menyajikannya. Namun Samira ingin mempelajari lebih banyak tentang kuliner Asia, termasuk Indonesia.
Kini, di samping sebagai seorang selebriti yang banyak menerima tawaran untuk tampil di televisi, Samira pun mulai mengembangkan usaha kuliner dengan kafenya bernama Modern Middle Eastern, yang terletak di Islamic Museum of Australia di Melbourn. Dalam suatu acara buka puasa bersama yang diadakannya di kafe tersebut, kepada AustralisPlus Samira mengatakan bahwa acara buka puasa bersama ini persiapannya lebih matang dibandingkan saat memasak untuk MasterChef. “Tak seperti di MasterChef, kali ini saya bisa bersiap-siap,” ujarnya sambil tersenyum lebar, meskipun ia tampak begitu sibuk mempersiapkan makanan untuk sekitar 70 orang yang menghadiri acara tersebut.
Dalam wawancara di sela berlangsungnya acara buka bersama, Samira bercerita tentang masa bersaing di MasterChef. “Dalam MasterChef, begitu Anda menerima tantangan, harus langsung bertindak. Harus berpikir cepat dan menggunakan apapun yang ada di lemari dapur,” cerita Samira.
Kondisi ini berbeda dengan apa yang dilakukannya sehari-hari di rumah atau saat mempersiapkan acara buka puasa bersama di kafenya. “Sedangkan dalam acara makan malam sendiri saya bisa mempersiapkan dan merencanakan,” ujarnya.
Seperti diketahui bahwa saat Samira mengikuti ajang MasterChef, suasananya sedang puasa (bulan Ramadhan). Karena itu, ia tak bisa berbuka puasa bersama dengan para sahabat, keluarga dan kerabat. Karena itu, usai acara itu, di puasa berikutnya ia mengadakan acara buka puasa bersama di kafe barunya tersebut.
Tentu, ada kebanggaan tersendiri bagi Samira karena bisa mengadakan buka puasa bersama. Apalagi, kini namanya sudah mulai dikenal sebagai selebriti kuliner. Dan sebagai selebriti kuliner, dalam acara buka puasa tersebut ia memasak makanan bernuansa Timur Tengah dengan sentuhan Australia dan Perancis.
Panutan Bagi Kaum Muslimah
Di luar hatters yang memang selalu ada di mana saja, kehadiran Samira di pentas MasterChef ternyata banyak memberikan inspirasi bagi banyak orang, terutama kaum muslimah. Ternyata, kaum muslimah pun bisa berkiprah di sebuah negara yang mayoritas non-Islam. Identitas keislamannya tidak menjadi masalah untuk bisa eksis.
Bagi banyak kaum di Australia (terutama yang beragama Islam), apa yang dilakukan oleh Samira adalah sangat membanggakan mereka. Salah seorang penggemar Samira yang bernama Amal Elsabrouty misalnya, ia rela mengikuti acara buka puasa bersama yang diadakan oleh Samira di kafenya. Selain karena ia penggemarnya. “Saya rasa Samira adalah panutan baik bagi kaum Muslimah. Ia bisa berada di mainstream, dan memberi gambaran positif,” ucapnya kepada Dina Indrasafitri dari ABC International.
Seorang tamu lain, Anneke Oppewal, penganut agama Kristen yang sering terlibat dalam kegiatan dialog antaragama. Ia pun mengaku bahwa Samira adalah salah satu peserta MasterChef favoritnya. “Saya terus mendukung dia, dan saya berharap ia bisa masuk ke babak final akhir, dan berhasil,” cerita Anneke.
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa “(Samira) orangnya hangat, jujur, apa adanya dan ia punya integritas yang tinggi.”
Namun, diakui oleh Samira sendiri. Menjadi seorang muslimah di negara mayoritas beragama Kristen itu tidaklah mudah. Apalagi kalau sudah berbicara soal puasa. Kenapa umat Islam harus melaparkan dirinya sendiri? Untuk hal ini ia pun mengisahkan pengalamannya, “Saya tinggal di dalam rumah dengan orang-orang yang tidak memahami itu, dan kami (umat Islam) disangka gila, karena kami melaparkan diri, jadi saya harus menjelaskan,” cerita Samira tentang masa itu dalam sesi tanya jawab buka puasa bersama.
Untungnya, acara MasterChef diadakan saat sedang tidak berpuasa alias malam hari. Jadinya, saat berkompetisi itu Samira masih bisa menyicipi masakannya. Bisa dibayangkan, jika acaranya siang hari dan ia sedang berpuasa. Bisa ditebak hasilnya? Sebab, sehebat apapun orang bisa memasak, jika masakannya tidak dicicipi dulu, hasilnya akan lain. Samira pasti sudah keok di awal-awal kompetisi.
Namun, tetap saja bersaing dalam sebuah reality show di bulan puasa merupakan tantangan tersendiri bagi Samira. “Saya bangun pada jam 1 pagi, berlatih memasak hingga jam tiga pagi, lalu tidur, bangun jam lima, dan berkompetisi di dapur MasterChef,” cerita wanita yang sudah punya anak 2 yang cantik-cantik ini.
Bagaimana dengan Anda?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar