Label

Minggu, 23 Agustus 2015

MUHAMMAD FETHULLAH GULEN, ILMUWAN PALING BERPENGARUH DI DUNIA VERSI FOREIGN POLICY MAGAZINE

"Pada 2008 Majalah paling populer di Amerika, Foreign Policy Magazine, menobatkannya sebagai orang nomor satu dari 100 tokoh paling berpengaruh di dunia."
Muhammad Fethullah Gulen atau yang akrab disapa Hocaefendi, lahir di Korucuk, Erzurum - Turki Timur pada tanggal 11 November 1938. Ayahnya, Ramiz Gulen, adalah imam di kawasan itu dan ibunya, Refia Gulen, merupakan seorang ibu yang penuh kasih sayang dan mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan karakter spiritual dan keagamaan Gulen.

Pendidikan formal Gulen diawali di desa kelahirannya, dan setelah keluarganya pindah ke desa tetangga, beliau mulai belajar tentang agama secara informal dari beberapa orang, yaitu ayahnya sendiri, serta beberapa guru sufi seperti Muhammad Lutfi Effendi, Haci Sıtkı, Sadi Effendi, dan Osman Bektaş.

Latar belakang pendidikan agama Gulen dipenuhi dengan nilai-nilai kebajikan yang dicontohkan secara langsung oleh para pendidiknya. Spiritualitas yang didapatkannya sebagian besar dilatarbelakangi oleh ajaran tasawuf. Namun begitu, walaupun beliau sangat menaruh hormat kepada guru-gurunya maupun tradisi tasawuf, beliau tidak pernah tergabung ke dalam tarekat manapun.

Beliau dikenal mempunyai rasa ingin tahu dan gairah membaca yang sangat besar, dan selama masa pendidikan agama inilah ia mulai tertarik pada isu-isu kontemporer pada masa itu. Ia juga mempelajari literatur Barat klasik seperti Faust, Les Misérables, Of Mice and Man dan banyak lagi yang lain untuk mendapatkan pemahaman tentang dunia Barat secara lebih baik. Beliau juga sangat menyukai seni dan menikmati music Turki klasik dan mengagumi karya lukis Picasso dan Da Vinci. Gulen pernah menjelaskan bahwa gaya abstrak Picasso sangat dekat dengan pemahaman Islam tentang seni.

Walaupun secara resmi ia mendapatkan izin untuk mengajar pada usia 21 tahun di daerah Edirne, namun ia diperbolehkan untuk mulai mengajar lebih awal di Erzurum yang disebabkan oleh prestasinya yang mengagumkan sebagai siswa. Khutbah dan kajian Gulen diikuti oleh kebanyakan mahasiswa dan intelektual. Cara penyampaian serta penggunaan bahasa Turki yang fasih telah menarik perhatian dan menghadirkan kesan yang mendalam bagi para pendengarnya sehingga akhirnya reputasinya meningkat pesat di daerah barat Turki.

Kini, meski Gulen tinggal di kota Pennsylvania - Amerika, gerakan- gerakannya serta pemikiran-pemikirannya telah tersebar ke seluruh penjuru dunia. Ajarannya tentang Hizmet (pelayanan terhadap umat manusia), telah menarik perhatian sejumlah pendukungnya di Turki, Asia Tengah, juga tokoh-tokoh penting lainnya di berbagai penjuru dunia.
Otoritas dan Pengaruh Gülen

Fethullah Gülen sangat dikenal dan dihormati di kalangan umat Islam Turki serta muslim dari seluruh dunia sebagai seorang muslim otoritatif utama dan kharismatis dari golongan Sunni, yang merupakan 87-90% dari populasi muslim di dunia. Gülen juga seorang filosof, penyair, penulis produktif, dan seorang aktivis pendidikan dan pemimpin opini. Para pengikutnya di Turki diperkirakan mencapai jutaan orang.

Pengaruh Gülen di luar Turki berkembang setiap hari seiring diterjemahkannya karya-karyanya ke berbagai bahasa termasuk Inggris, Arab, Rusia, Jerman, Spanyol, Urdu, Bosnia, Albania, Melayu dan bahkan Indonesia. Selain publikasi cetak, ide-ide Gülen dapat pula diakses oleh populasi dunia yang semakin meningkat melalui siaran radio swasta dan jaringan-jaringan televisi yang bersimpati terhadap pandangan Gülen.

Tidak saja pandai beretorika, Gulen juga telah menginspirasi pendirian ratusan organisasi pendidikan seperti sekolah dasar dan menengah, universitas, dan sekolah bahasa yang tersebar di seluruh dunia. Beberapa contoh penting dari sekolah-sekolah tersebut termasuk yang berada di wilayah tenggara Turki, di Asia Tengah, beberapa negara di Afrika, Timur Jauh dan Eropa Timur. Terlepas dari lokasi mereka, sekolah-sekolah ini menjadi simbol harmonisasi hubungan antaragama dan antarbudaya, keberhasilan penyatuan antara iman dan akal serta dedikasi untuk melayani kemanusiaan.

Terutama di daerah-daerah yang sarat konflik seperti di Filipina, di wilayah tenggara Turki dan Afghanistan, kehadiran lembaga-lembaga ini membantu mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesempatan pendidikan, yang pada gilirannya mampu menurunkan daya tarik kelompok teroris dengan agenda eksklusif yang beroperasi di negara-negara tersebut. Selain berkontribusi pada harmoni sosial, sekolah-sekolah ini menghasilkan pemenang dalam kompetisi sains internasional dan matematika.

Pengaruh Gulen yang begitu luar biasa membuatnya mendapatkan julukan "Rumi modern". Hal ini dikarenakan ajaran-ajarannya yang mengedepankan spiritualitas (tasawuf) atau nilai-nilai cinta, kasih sayang dan pendekatan hati dalam memecahkan persoalan kemanusiaan, bukan jalan kekerasan (terorisme). Imbasnya, Gülen sempat diminta oleh Şefik Can, guru besar (mursyid) Sufi masa kini, keturunan Rumi yang juga seorang penulis, untuk menuliskan kata pengantar buku tentang kehidupan Rumi dan ajarannya. Gülen sendiri menulis sebanyak dua volume buku tentang tasawuf dalam bahasa Inggris yang digunakan sebagai buku acuan untuk program universitas dalam tema tradisi spiritual dunia.
Pandangan Gulen tentang Toleransi

Gulen adalah sosok yang paling bersemangat dalam menggelorakan toleransi antar umat beragama. Karena itu, di Turki ia dikenal sebagai tokoh yang telah membawa angin segar dalam menjalin hubungan antara penduduk mayoritas muslim dengan berbagai agama minoritas seperti Kristen Ortodoks Yunani, Kristen Ortodoks Armenia, Katolik, dan juga komunitas Yahudi.

Di luar Turki, ide-ide Gülen tentang dialog antar agama telah mengilhami banyak orang untuk mendirikan organisasi yang terlibat dalam dialog dengan tujuan yang sama yaitu adanya saling pengertian, sikap empati, hidup berdampingan secara damai, dan saling bekerjasama. Upaya Gülen dalam dialog dan toleransi diakui secara pribadi oleh mendiang Paus Yohanes Paulus II dan Kepala Rabbi Sephardic Israel, serta pertemuan dengan para pemimpin dari berbagai denominasi Kristen.

Karena itu, Gulen sangat mengecam tindakan terorisme yang belakangan marak terjadi di berbagai belahan dunia. Salah satu sikap toleransinya tampak dari ungkapan Gulen berikut, “Be so tolerant that your bosom becomes wide like the ocean. Become inspired with faith and love of human beings. Let there be no troubled souls to whom you do not offer a hand and about whom you remain unconcerned.”(Fethullah Gülen, Criteria or Lights of the Way. London: Truestar).

Perkataan di atas maksudnya kira-kira begini, “Jadilah orang yang begitu toleran sehingga dadamu meluas laksana samudera dan dibimbing oleh iman dan cinta kepada sesama manusia. Jangan sampai ada jiwa-jiwa yang menderita dan terabaikan yang tidak mendapatkan uluran tanganmu.” (Fethullah Gülen, Criteria or Lights of the Way. London: Truestar).

Ketika terjadi serangan 11 September yang menghancurkan dua menara kembar (World Trading Centre) di Amerika Serikat, Gulen adalah tokoh cendekiawan muslim pertama yang secara terbuka mengutuk serangan tersebut yang ia buatkan iklannya di Washington Post.

Tidak saja membuat iklan, Gulen juga membantu menerbitkan sebuah buku ilmiah mengenai perspektif Islam atas serangan teror dan bunuh diri, mengutuk tindakan tersebut atas dasar kemanusiaan dan agama. Gulen tidak hanya mengekspresikan pandangan-pandangan ini bagi para pembaca Barat, namun beliau menyuarakannya pula dalam mimbar-mimbar khutbah di masjid-masjid pada ribuan jemaat umat Islam. Dalam wawancaranya kepada surat kabar Turki, Jepang, Kenya dan Amerika, secara tegas Gulen mengutuk penggunaan alasan politik, ideologi dan agama dalam membenarkan tindakan teroris.
Pendidik Sejati 

Masih banyak lagi pandangan-pandangan Gulen yang diakui dunia. Misalnya saja soal sains dan iman. Menurutnya, ilmu pengetahuan dan iman tidak hanya kompatibel tetapi saling melengkapi. Sehingga ia mendorong penelitian ilmiah dan kemajuan teknologi demi kebaikan semua umat manusia.

Soal sistem pemerintahan, Gulen mengakui bahwa demokrasi sebagai satu-satunya sistem politik pemerintahan yang layak. Gülen mencela pengubahan agama menjadi ideologi politik namun beliau tetap mendorong semua warga negara untuk ambil bagian dan bertanggung jawab dalam kehidupan politik negara mereka. Gülen menekankan fleksibilitas dalam prinsip-prinsip Islam terkait dengan tata negara dan kompatibilitasnya dengan demokrasi sejati.

Gulen adalah seorang pendidik sejati. Baginya, makna wahyu pertama tertekan pada kewajiban belajar, bukan beribadah. Karena hanya dengan belajar yang benar kita bisa beribadah yang sah. Tak salah bila pada suatu kali, Gulen berujar: “Perbanyak Sekolah, Bukan Masjid" (Instead of Mosques).

Suatu kali, Gulen pernah berujar “we are only truly human if we learn, teach and inspire others”. Kita menjadi manusia hanya karena kita belajar, mendidik dan menginspirasi orang lain. Esensi kemanusiaan kita dengan demikian bukanlah akal, otak ataupun pikiran, tetapi penggunaan akal agar berguna dan bermanfaat buat orang lain.

Pendidikan berbanding lurus dan sederajat dengan kemanusiaan kita. Gulen sering membandingkan manusia dengan hewan dalam soal pendidikan. Hewan hanya dalam hitungan hari bisa mendapatkan kemampuan untuk digunakan seumur hidupnya. Sementara manusia memerlukan puluhan tahun untuk menjadi manusia yang sesungguhnya dan mengenal Tuhannya. Bahkan ada manusia yang hingga akhir hayatnya belum mendapatkan bekal kehidupannya.

Gulen sangat mengagumi dan terinspirasi oleh Sa’id Nursi, sang Bediuzzaman. Dalam pandangan Sa’id Nursi, ilmu pengetahuan apapun hanya mencerahkan, mengiluminasi pikiran kita. Kita butuh satu elemen lain, yakni keimanan dan kebajikan (faith and virtue) untuk mencapai kejernihan kalbu. Inilah yang mengukuhkan Gulen akan perspektif pendidikannya.

Singkatnya, Gulen merupakan sosok ulama kharismatik dan paling berpengaruh di seluruh dunia saat ini. Pada 2008 Majalah paling populer di Amerika, Foreign Policy Magazine menobatkannya sebagai orang nomor satu dari 100 tokoh paling berpengaruh di dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar