Label

Minggu, 23 Agustus 2015

MOHAMMED ASSAF, MEMBANGGAKAN PALESTINA LEWAT MUSIK

“Kehadiraan Assaf di pentas Arab Idol telah menumbuhkan nasionalisme Palestina yang luar biasa.”

Kali ini saya akan menampilkan sosok Mohammed Assaf, seorang penyanyi Palestina yang tiba-tiba menjadi terkenal setelah menjadi pemenang musim kedua Arab Idol tahun 2013, yang disiarkan langsung oleh jaringan MBC. Meski sudah hampir setahun lebih ia menjuarai ajang bergengsi tersebut, namun tak ada salahnya jika kali ini kami mengetengahkannya kembali kepada pembaca tentang sosok yang dijuluki Asaroukh ("The Rocket") oleh penyanyi Lebanon dan hakim Arab Idol, Ragheb Alama.
Pasalnya, sekarang, dunia kembali heboh dengan “serangan brutal” Israel terhadap Palestina. Sementara Assaf, adalah orang Gaza (Palestina) yang besar dan hidup di sebuah kamp pengungsian. Perang yang terjadi mulai Ramadhan kemarin tersebut seolah mengingatkan kita kembali akan sosok lelaki yang telah membanggakan negara Palestina di tengah kecamuk perang yang tak pernah henti tersebut.
Assaf lahir di Gaza pada 10 September 1989. Keluarga ibunya berasal dari desa Bayt Daras, Palestina, sedangkan keluarga ayahnya dari desa Barsyeba. Karena konflik internal dan juga dengan Israel, orang tua membawa Assaf ke kamp pengungsian di Khan Yunis saat usianya baru empat tahun. Meski begitu, bakatnya sebagai penyanyi telah diketahui oleh guru matematikanya, Ibu Intisar, sejak kecil. “Ia memiliki suara yang jauh lebih tua dibandingkan usianya,” ujar sang ibu guru memuji anak muridnya itu.
Dalam karirnya sebagai seorang penyanyi, sesungguhnya Assaf tidak pernah belajar musik secara profesional kepada seorang guru atau lembaga musik. Ia bisa bernyanyi karena benar-benar sebuah bakat dan anugerah dari Allah SWT. Ia memulai karir bermusiknya dengan bernyanyi di pesta pernikahan dan acara pribadi lainnya di wilayahnya sendiri.  
Nama Assaf mulai dikenal publik saat ia tampil di sebuah program acara terkenal di televisi Palestina tahun 2000. Saat itu ia menyanyikan sebuah lagu bertemakan nasionalis yang bisa membangkitkan semangat nasionalisme di Palestina. Setelah itu tawaran demi tawaran datang kepadanya. Bahkan, ia kemudian mendapatkan kontrak dari perusahaan rekaman lokal. Beberapa saat setelah penampilan pertamanya, ia bernyanyi di sebuah acara lokal di Gaza yang dihadiri oleh Presiden Palestina, Yasser Arafat.
Apa yang dicapainya di Palestina ternyata tidak lekas membuat Assaf berpuas diri. Impiannya untuk ikut sebuah kompetisi bertaraf internasional kembali menghantui dirinya, salah satunya Arab Idol. Karena itulah, ia berusaha keras bagaimana caranya agar bisa mengikuti kompetisi tersebut.
Arab Idol
Maka mulailah Assaf bertekad untuk mengikuti audisi Arab Idol yang bertempat di Libanon. Dengan naik mobil dari Palestina, Assaf pergi menuju perbatasan Gaza untuk sampai ke negeri Mesir. Sebelum pergi, ia harus meyakinkan dulu bahwa keadaan di Gaza aman-aman saja. Setelah aman barulah ia bisa pergi. Namun, dalam perjalanan ternyata tidak seaman yang dibayangkan. Ia menemukan kendala di Gaza, sehingga harus membutuhkan waktu dua hari untuk bisa sampai Mesir dengan berkendarakan mobil.
Setelah sampai di sebuah hotel, tempat di mana audisi berlangsung, tiba-tiba pintu hotel ditutup karena panitia Arab Idol sudah tidak lagi menerima peserta audisi. Dengan nekad, Assaf melompati tembok untuk bisa masuk ke dalam hotel. Sampai di dalam Assaf kembali bingung karena tak memiliki nomer audisi. Ia duduk lesu dan putus asa bersama peserta audisi Arab Idol lainnya yang sedang menunggu giliran untuk tampil.
Untuk menghilangkan rasa gundah gulananya, Assaf mulai bernyanyi dengan percaya dirinya di depan para kontestan. Ketika itulah salah seorang peserta lainnya yang berasal dari Palestina bernama Ramadhan Abu Nahel melihat dan mendengar suaranya. Melihat Assaf tak memiliki nomer audisi ia pun menghampiri Assaf dan berkata, "Aku tahu aku tidak akan mencapai final tetapi Anda akan."
Dengan berbekal nomer audisi dari temannya tersebut, Assaf pun bisa mengikuti audisi. Saatnya ia mendapatkan giliran tampil. Dengan kaos warna putih, celana jeans dan nomer audisi 17500 Assaf pun masuk ke ruang audisi di mana empat juri sudah menunggu. Setelah memperkenalkan dirinya yang berasal dari Negara Palestina, Assaf pun mulai bernyanyi. Tanpa diiringi oleh musik ia membawakan lagu milik Abdel Halim Hafez yang berjudul Safini Mara.
Suara Assaf yang berat, merdu dan bertenaga, berhasil memukau semua juri. Assaf pun terlihat senang saat ia mendapatkan golden tiket bertuliskan Mabruk, yang artinya Selamat atau Congratulation. Assaf pun melangkah keluar dari ruang audisi dengan sejumput harapan besar untuk warga Palestina yang terus bertikai dengan Israel. Assaf berhak menuju Beirut, Libanon, tempat berlangsungnya Arab Idol untuk mengikuti audisi selanjutnya dalam babak group.
Di babak audisi kategori group ini, Assaf membawakan lagu milik Joseph Sakr berjudul Anna Elli Alayki Mishta. Lagu ini mengantarkannya lolos ke babak berikutnya. Pada babak terakhir, yakni babak penentuan untuk masuk menjadi peserta Arab Idol yang terdiri dari 27 orang, Assaf membawakan lagu milik Melhem Barakat berjudul Ala Babi Waef Amarin. Lagi-lagi Assaf berhasil memukau juri dan akhirnya ia pun dinyatakan  lolos dan sah menjadi peserta Arab Idol.
Dalam penampilan perdananya di babak spektakuler, Assaf membawakan lagu Aala Hisb Oudad milik Abdel Halim Hafez. Assaf pun kembali memukau penonton yang membawanya lolos ke babak selanjutnya. Singkat kata, Assaf pun berhasil sampai di puncak untuk bertarung dengan lawan dari Mesir (Ahmed Gamal) dan dari Syria (Farah Youssef).
Dalam penampilan puncak, Assaf membawakan beberapa lagu, salah satunya lagu nasionalis Palestina yang membuat lagu ini akhirnya benar-benar terkenal, yaitu Aali el Kuffiyeh. Kuffiyeh atau kafiyeh sendiri merupakan syal kebanggaan negara Palestina yang mencirikan nasionalisme, persatuan dan kebanggaan. Pada tanggal 22 Juni 2013 akhirnya menjadi sebuah sejarah terpenting dalam perjalanan musik negeri Palestina. Saat itulah, akhirnya Assaf yang merupakan warga Palestina dinobatkan sebagai Pemenang Arab Idol session dua. Session pertama tahun 2012 dimenangkan oleh penyanyi Mesir bernama Carmen Sulaeman.
Kemenangan Assaf tersebut benar-benar membuat warga Palestina berpesta. Di jalanan atau tempat-tempat lain, seperti di jalur Gaza, Nablus, Ramallah, Bethlehem, Khan Yunis, dan Nazareth, rakyat Palestina bersuka cita menyambut kemenangan lelaki kebanggaan negerinya tersebut. Foto dan poster besar-besar bergambar Assaf pun dipajang di rumah, jalanan, dan bangunan sebagai tanda kebanggaan mereka akan sang pahlawan.
“Dia layak menang. Suaranya kuat dan penampilannya bahkan lebih baik. Tidak ada yang seperti dia. Assaf bersaing untuk meningkatkan profil Palestina dan Gaza. Saya mendukung dia dan bangga dia berasal dari sini,” ujar Maya, seorang remaja pendukung Assaf yang menyaksikan penampilannya lewat sebuah kafe di Gaza saat itu.
Usai kemenangannya, kepada media Assaf sendiri mengucapkan, "Aku berterima kasih kepada semua penggemar yang mendukungku dan membantu sampai ke posisi ini."
Saking bangganya pula, seorang Presiden Palestina yang bernama Mahmoud Abbas harus menelponnya. Bahkan, pengurus utama kantor berita WAFA yang bernama Salam Fayyad telah mengesahkan halaman fesbuk khusus untuknya. Dengan kata lain, Assaf benar-benar telah membanggakan rakyat Palestina. Suaranya yang unik dan barkarakter dipuji banyak orang.
Kemenangan Assaf ini memang banyak diprediksi orang. Berdasarkan statistik, menurut perusahaan Synthesio, dibandingkan peserta lainnya nama Assaf termasuk peserta yang paling sering diperbincangkan di media online.
Kehadiraan Assaf di pentas Arab Idol memang menumbuhkan nasionalisme Palestina yang luar biasa. Putri mantan Perdana Menteri Palestina, Zahwa, bahkan harus ikut-ikutan mendorong pemirsa televisi dan rakyat Palestina untuk mendukung Assaf. Banyak lagi politikus-politikus lainnya. Semua kawasan Gaza, khususnya, menjadi hening saat Assaf tampil. Maka pantaslah, jika Assaf kemudian keluar sebagai pemenangnya.
Sejak itu, nama Assaf seketika menjadi sangat terkenal di dunia Arab. Bahkan, di Israel sendiri yang menjadi musuh utama Palestina, sosok Assaf kerapkali menghiasi media-media di sana.
Penampilan Assaf di Arab Idol pun memberikan pengaruh yang sangat besar. Di mata Jamal Abu Qumsan, Anggota Dewan Asosiasi Kebudayaan dan Seni Gaza, lagu-lagu yang dibawakan oleh Assaf seketika berhasil memberikan rasa stabilitas bagi konflik internal Palestina, yaitu antara Hamas dan Fatah. Bahkan, mengurangi ketegangan antara Palestina dan Israel sendiri.
Tak ketinggalan, kemenangan Assaf di Arab Idol ini juga diliput oleh media-media Asia, Amerika dan Eropa, yang membuatnya semakin terkenal di dunia. Media-media semacam We Paint, Voice of America, 12 News, The Japan Times, CNN Internasiona dan sebagainya, memuat berita soal Assaf. Seketika Assaf pun menjadi selebritis dunia.
Kini, Assaf yang dijuga dijuluki “Tom Cruise Arab Idol” karena kemiripan wajahnya dengan aktor ganteng dari Hollywood, Tom Cruise, diangkat sebagai duta perdamaian oleh Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA). Dia juga terpilih menjadi duta budaya dan seni oleh pemerintah Palestina.
Penampilan spektakulernya adalah saat ia didaulat menjadi salah seorang pengisi di acara pembukaan Song In FIFA Congress tahun 2014. Selamat Assaf, Anda telah membanggakan Palestina dan juga dunia! Semoga karirmu panjang! Amien.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar