Label

Senin, 24 Agustus 2015

KH. ZAINUDDIN MZ, SOSOK LANGKA DALAM DUNIA DAKWAH

"Dia adalah sosok yang sangat langka dalam dunia dakwah. Tidak ada seorang pun yang bisa menyamai popularitasnya dan kemampuannya sebagai juru dakwah. Dialah Da'i Sejuta Umat."


Saya melihat ceramahnya secara langsung hanya sekali saja, yaitu saat beliau tampil di halaman Masjid Darussalam Karangampel Indramayu. Saat itu saya masih kecil. Namun, sudah merasakan nama besarnya dan kehebatannya dalam berpidato. Saat itu, beliau hanya tampil setengah jam lebih, namun sudah memukau para hadirin. Selebihnya, saya hanya bisa menonton beliau lewat televisi, terutama dalam program dakwah Damai Indonesiaku di TV One, kaset dan online (Youtube).

Bagi saya, KH. Zainuddin MZ adalah pelopor dakwah masa kini yang memiliki pengikut jutaan orang -karena itu, ia dijuluki Da’i Sejuta Umat. Ia hanya satu, tak tergantikan oleh siapapun. Banyak orang yang berusaha mengikuti gaya dakwahnya, namun tetap tidak berhasil. 

KH. Zaenuddin MZ adalah contoh pendakwah yang sangat berhasil dalam menyampaikan nilai-nilai keislaman, kemanusiaan dan kebangsaan secara ilmiah, namun bisa diterima oleh semua kalangan: pejabat, pengusaha, politikus, tukang sapu, driver, office boy hingga penjual nasi uduk. Hampir semua orang suka dengan gaya dakwahnya. Gaya bahasa dan tutur katanya saat berpidato nyaris tak terkalahkan oleh siapapun: sistematis, ilmiah, dan nyastra. 

Kini, tidak ada seorang pendakwah pun yang bisa seperti dia, bahkan mendekatinya sekalipun. Banyak orang dibuat tertawa oleh gaya pidatonya, meski ia bukan seorang pelawak. Karena itu, saat beliau tampil, tak ada orang yang pergi meninggalkannya (pulang) sebelum ceramahnya benar-benar habis. Bahkan, tak sedikit, usai tampil banyak yang minta foto bersamanya.

Itulah KH. Zainuddin MZ, sosok pendiam dan kalem, tapi terlihat sangat garang ketika sudah ada di panggung. Nama lengkapnya KH. Zainuddin Hamidi, namun lebih akrab dipanggil KH. Zainuddin MZ. Menurut H. Fatulloh, asistennya saat itu, nama MZ langsung dilekatkan oleh beliau sejak pertama kali berdakwah. “Bapak enggak pernah cerita kenapa beliau mengambil kedua huruf itu. Ya cuma langsung dipakai saja sejak pertama kali berdakwah,” terangnya.

Fatulloh bercerita bahwa KH. Zainuddin MZ suka bercanda jika ditanya soal kepanjangan MZ. “Bapak kalau ditanya apa arti MZ, pasti bilangnya 'Memang Zainuddin'. Suka dibuat bercanda, cuma lucu-lucuan. Tapi kalau dibilang Mohammad Zein, jauh itu. Enggak ada hubungannya sama sekali,” ujar Fatulloh kala itu.

KH. Zainuddin MZ lahir di Jakarta, 2 Maret 1952 sebagai anak tunggal dari pasangan Turmudzi dan Zainabun. Beliau adalah orang Betawi asli. Ayahnya adalah seorang pensiunan PT PLN (Persero) dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Beliau sebenarnya punya tiga saudara, namun dari bapak yang lain. Ketika ayahnya meninggal, ibu menikah lagi dengan laki-laki lain.

Sejak lahir, Zainuddin tinggal di rumah orang tuanya di Jl. Gandaria Gang Cemara Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Namun, sejak tahun 1986, mereka pindah ke alamat yang sama namun berbeda gang, yaitu Gang Haji Aom No. 101. “Di sana kan sempit, mobil tidak bisa masuk. Akhirnya pindah ke Gang Haji Aom. Rumah yang di Gang Cemara sekarang ditempati adik tirinya. Keluarga Pak Zainuddin sendiri di Gang Haji Aom. Sekarang, yang tinggal di sana istri dan anak bungsu Zainuddin, Zaki. Namun, karena bapak baru saja meninggal ya semua berkumpul di sini,” ujar Fatulloh.

Udin -panggilan KH. Zainuddin MZ, sejak kecil memang sudah terlihat bakatnya dalam berpidato. Beliau suka naik ke atas meja untuk berpidato di depan tamu yang berkunjung ke rumah kakeknya. Bakatnya itu mulai tersalurkan ketika mulai masuk Madrasah Tsanawiyah hingga tamat Madrasah Aliyah di Darul Ma’arif, Jakarta. Di sekolah ini ia belajar pidato dalam forum Ta’limul Muhadharah (belajar berpidato). Kebiasaannya membanyol dan mendongeng terus berkembang. Setiap kali tampil, ia memukau teman-temannya. Kemampuannya itu terus terasah, berbarengan permintaan ceramah yang terus mengalir.

Karir ceramahnya mulai dikenal luas saat beliau rekaman. Sejak itu, da’i yang punya hobi mendengarkan lagu-lagu dangdut ini mulai dilirik oleh beberapa stasiun televisi. Bahkan dikontrak oleh sebuah biro perjalanan haji yang bekerjasama dengan televisi swasta bersafari bersama artis ke berbagai daerah yang disebut "Nada dan Dakwah".

Kepiawaian ceramahnya sempat mengantarkan Zainuddin ke dunia politik. Pada tahun 1977-1982 ia bergabung dengan partai berlambang Ka’bah (PPP). Jabatannya pun bertambah, selain da’i juga sebagai politikus. Selain itu, keterlibatannya dalam PPP tidak bisa dilepaskan dari guru ngajinya, KH Idham Chalid. Sebab, gurunya yang pernah jadi ketua umum PBNU itu salah seorang deklarator PPP. Dia mengaku lama nyantri di Ponpes Idham Khalid yang berada di bilangan Cipete, yang belakangan identik sebagai kubu dalam NU.

Sebelum masuk DPP, dia sudah menjadi pengurus aktif PPP, yakni menjadi anggota dewan penasihat DPW DKI Jakarta. Lebih jauh lagi, berkat kelihaiannya mengomunikasikan ajaran agama dengan gaya tutur yang luwes, sederhana, dan dibumbui humor segar, partai yang merupakan fusi beberapa partai Islam itu jauh-jauh hari (sejak Pemilu 1977) sudah memanfaatkannya sebagai vote-getter. Bersama Raja Dangdut Rhoma Irama, Zainuddin berkeliling berbagai wilayah mengampanyekan partai yang saat itu bergambar Ka’bah -sebelum berganti gambar bintang. Hasil yang diperoleh sangat signifikan dan memengaruhi dominasi Golkar. Tak ayal, kondisi itu membuat penguasa Orde Baru waswas. 

Totalitas Zainuddin untuk PPP, salah satunya disebabkan karena secara kultural beliau adalah warga nahdliyin, atau menjadi bagian dari keluarga besar NU. Dengan posisinya tersebut, dia ingin memperjuangkan NU yang saat itu menjadi bagian dari fusi PPP yang dipaksakan Orde Baru pada 5 Januari 1971. Untuk diketahui, ormas lain yang menjadi bagian fusi itu, antara lain, Muslimin Indonesia (MI), Perti, dan PSII.

Pada 20 Januari 2002 KH. Zainudiin MZ bersama rekan-rekannya mendeklarasikan PPP Reformasi yang kemudian berubah nama menjadi Partai Bintang Reformasi dalam Muktamar Luar Biasa pada 8-9 April 2003 di Jakarta. Ia juga secara resmi ditetapkan sebagai calon presiden oleh partai ini. Zainuddin MZ menjabat sebagai Ketua umum PBR sampai tahun 2006.



Tokoh Inspirasi

Kenapa KH. Zainuddin MZ lihai dalam berpidato? Selain bakat, ternyata beliau juga terinspirasi dari empat tokoh fenomenal ini. Dalam buku "KH. Zainuddin MZ: Dai Sejuta Umat", tergambar dalam dirinya menyatu empat figur tokoh Indonesia yang fenomenal. Pertama, Soekarno. Sejak kecil KH. Zainuddin MZ mengagumi gaya orator Bung Karno yang tampil berani, gagah dan dapat memikat perhatian berjuta-juta rakyat Indonesia. Buku-buku maupun majalah yang mengupas tentang pemikiran Bung Karno tak pernah lepas dari kehidupan KH. Zainuddin sejak usia sekolah.

Di kala usianya masih 5 tahun, KH. Zainuddin MZ memiliki hobi mengikuti ibunya Zainabun ke pasar. Warna kulitnya yang putih dan bermata sipit membuat gemas para pedagang Cina di pasar. Di tengah-tengah kegaduhan pasar itulah, KH. Zainuddin MZ kecil kerap naik di atas meja milik pengusaha Cina. Dengan mimik muka serius, KH. Zainuddin MZ kecil menirukan gaya pidato Bung Karno. Hobinya naik meja dan berpidato dengan suara lantang juga dilakukan di depan para tamu yang kerap bertandang ke rumah kakek-neneknya.

Kedua, KH. Idham Khalid. KH. Zainuddin MZ bersentuhan langsung dengan pemimpin NU (1952-1984) ini ketika menuntut ilmu di Madrasah Tsanawiyah hingga tamat Aliyah Perguruan Darul Ma'arif yang dipimpin langsung oleh KH. Idham Khalid. Semua tindak-tanduk KH. Idham Khalid menarik perhatian KH. Zainuddin MZ. Kala itu KH. Idham Khalid dikenal sebagai "singa podium" meski bertubuh kecil.

Suatu kali KH. Zainuddin MZ pernah mengisahkan ada seorang ulama yang dicintai umatnya. Ketika sang ulama tersebut dalam pidatonya menceritakan kesedihan, hampir semua jamaah menangis. Dan jika sang ulama tersebut mengisahkan kabar gembira, semua jamaah juga tampak berwajah seri. Ulama seperti ini, menurut KH. Zainuddin MZ, adalah ulama yang patut diteladani karena keikhlasannya, kedalaman ilmunya, dan kedekatannya pada Allah. Beberapa saat kemudian barulah diketahui, ternyata ulama tersebut adalah KH. Idham Khalid, gurunya sendiri.

Selain dikenal sebagai singa podium, KH. Idham Kholid juga dikenal sebagai pelobi ulung. Bakat sebagai orator dan pelobi ulung inilah yang perlahan-lahan dipelajari oleh KH. Zainuddin MZ kecil. Di banyak kesempatan saat-saat sekolah di Perguruan Darul Ma'arif, beliau sering tampil di hadapan teman-temannya dengan beragam "guyonan" khas Betawi. Dalam setiap kali tampil, beliau selalu memukau perhatian teman-temannya.

Ketiga, Buya Hamka. Sejak muda, KH. Zainuddin MZ sangat gandrung dengan karya-karya sastra Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah). Ketertarikan beliau pada sosok Hamka bukan semata karena sang tokoh adalah sastrawan. Selama hidupnya Hamka selain dikenal sebagai sastrawan Indonesia, juga sekaligus ulama dan aktivis politik. Dari karya-karya beliaulah, KH. Zainuddin MZ belajar bagaimana memilih dan memilah bahasa yang sesuai dengan "diksi", bahasa yang kelak digunakannya untuk "mencubit" namun tidak merasakan sakit.

Hamka yang dalam hidupnya otodidak dalam ilmu pengetahuan mengilhami KH. Zainuddin MZ juga melakukan hal yang sama. Apa yang dipelajari Hamka mulai dari filsafat, sastra, sejarah, sosiologi, dan politik, baik Islam maupun Barat juga dipelajari oleh beliau.

Keempat, KH. Syukron Makmun. Pimpinan Pondok Pesantren Darul Rahman Jakarta Selatan ini juga idola KH. Zaenuddin MZ. Keberanian beliau mengilhami proses pembelajaran KH. Zainuddin MZ membentuk karirnya di atas podium. KH. Syukron Makmun dikenal sebagai ulama yang berani mengkritik pemerintah Orde Baru. Dalam sebuah cerita dari para santrinya, KH. Syukron Makmun kerap menjadi sasaran tembak misterius namun berkat kedekatannya sang kiayi kepada Allah, tembakan tersebut tidak pernah kena sasaran. Selain berani, KH. Syukron Makmun juga dikenal sebagai ulama yang disiplin dalam mendidik para santrinya.

Inilah empat karakter tokoh fenomenal yang menjadi inspirasi KH. Zainuddin MZ dalam karir dakwahnya hingga beliau sendiri sangat sukses menjadi seorang pendakwah dan mendapat julukan Da'i Sejuta Umat.


Mengganti Arah Kiblat

Sepanjang hidupnya, KH. Zainuddin MZ pernah membongkar Masjid Fajrul Islam yang terletak di depan rumahnya karena arah kiblatnya salah dan harus diluruskan. "Masjid Fajrul Islam di depan itu pernah dibongkar pak kyai karena kiblatnya dianggap keliru. Itu terjadi sekitar sepuluh tahun yang lalu. Pak Kyai memutuskan untuk merubuhkan masjid Fajrul Islam dan bermaksud mengganti arah kiblat masjidnya ke arah yang benar," ujar H. Jaya, salah satu kerabat KH Zainuddin MZ, kepada kapanlagi, Selasa, 5 Juli 2011.

Meski dibongkar, KH Zainuddin MZ tetap bertanggung jawab dengan kembali membangun arah masjid yang menjadi tempat peristirahatan terakhirnya itu ke arah yang benar dengan biaya sendiri. "Begitu dirubuhkan, dan kiblat diganti menuju arah yang benar, pak kyai membangun masjid itu lagi dengan biaya sendiri. Semua pembangunan masjid itu dibiayai pak kyai sendiri. Empat tahun yang lalu, pak kyai merenovasi masjid ini dan mengganti kubahnya menjadi lebih besar dan mewah. Lantainya juga ditinggikan menjadi dua lantai," imbuhnya.

KH Zainuddin MZ meninggal dunia di usianya ke 59 tahun pada Selasa, 5 Juli 2011 sekitar pukul 09.20 WIB. Beliau meninggal di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta dikarenakan sakit jantung dan gula darah. Ia meninggal setelah sarapan bersama keluarga di rumahnya di Gandaria. Beliau meninggalkan satu orang istri, Kholilah dan empat orang anak Fikri Haikal MZ, Luthfi MZ, Kiki MZ, dan Zaki MZ.

Menurut Raja Dangdut H. Rhoma Irama, sebelum meninggal almarhum sempat menyampaikan rasa prihatinnya kepada umat Islam, terutama kelompok Islam eksklusif yang saling mengkafirkan satu sama lain. "Dia juga mengatakan kepada saya, agar komponen umat Islam tidak arogan dan menghormati sesama muslim. Ini agar Islam berjaya," kata Bung Rhoma.

Sementara sahabat almarhum lainnya, Ustadz Jeffry Al Bukhari (almarhum), juga menyampaikan rasa dukanya karena kehilangan guru yang memiliki kelapangan hati dan orator ulung bagi umat Islam. "Beliau pernah berpesan, saat ini masanya saya untuk maju, ayah sudah capai dan lelah. Kalimat itu menjadi isyarat dan inilah yang terjadi dan beliau lebih dulu meninggalkan kita," kata Ustadz Jeffry yang juga kemudian menyusul panutannya tersebut.

Demikian figur Da'i Sejuta Umat KH. Zainuddin MZ. Sosoknya yang sangat langka dalam dunia dakwah membuat umat Islam sangat kehilangan ketika beliau telah meninggalkan kita. Meski begitu, kita masih bisa menikmati ceramah-ceramahnya lewat media online seperti Youtube atau kaset dan CD yang masih dijual di toko-toko terdekat Anda.

Semoga kita bisa terinspirasi dari kisahnya! Amien.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar