Label

Selasa, 25 Agustus 2015

GUS NURIL (KH. NURIL ARIFIN HUSEIN), PENDAKWAH LINTAS AGAMA DAN RAS

"Jangan heran bila negara ini gampang dihancurkan oleh kekuatan lain (asing). Untuk itu NKRI harus dipertahankan dan bangsa ini hidup sejahtera dengan budayanya sendiri. Pancasila harga mati," tandas Gus Nuril.

Namanya adalah KH. Nuril Arifin Husein, namun beliau akrab dipanggil Gus Nuril. Lelaki kelahiraan asal Ujungpangkah Kulon, Gresik, 12 Juli 1959 ini adalah seorang pecinta Gus Dur sejati. Kesehariannya, beliau menampilkan sisi-sisi sufistik. Karena itu, dakwahnya melintasi batas agama: Islam, Kristen, Hindu, Budha dan Konghucu. Dalam memahami Islam, beliau tidak terjebak dengan sekat-sekat formalitas seperti ceramah harus di masjid atau mushola. Karena itu, beliau seringkali ceramah di gereja, pura, dan wihara.

Sebagai ulama yang terlahir di Indonesia dan berdarah NU, Gus Nuril sangat gigih dalam memperjuangkan NKRI dan nilai-nilai pluralisme. Karena itu, ia tak segan-segan mengkritisi cara berpikir Islam garis keras seperti yang ditampilkan oleh Wahabi, Ikhwanul Muslimin, HTI atau FPI itu sendiri.

Karena itu, normal saja jika ada segelintir orang yang tidak sepakat dengan “model dakwahnya” seperti itu dan itu tidak saja berasal dari kalangan mereka yang selalu tersindir dengan dakwah-dakwahnya, tapi juga dari kalangan NU sendiri. Salah satunya adalah KH. Idrus Ramli. Kiai muda NU asal Pasuruan yang ahli soal aswaja ini pernah mempertanyakan soal dakwah Gus Nuril di gereja-gereja.  Menurutnya, tindakan Gus Nuril sudah kebablasan. Dia menilai, jika alasan Gus Nuril sering berceramah di gereja dan rumah ibadah agama lain sebagai bagian dari dakwah Islam yang rahmatan lil aalamien, harusnya ada tolok ukur keberhasilan dari dakwahnya tersebut. 

“Kalau alasan dia ceramah di gereja untuk berdakwah. Apa yang ia dakwahkan? Terus siapa yang sudah masuk Islam dari hasil dakwahnya di gereja-gereja itu?” tanya Idrus ketika menjawab pertanyaan Islampos. 

“Jika pun benar niatnya untuk berdakwah, harusnya beliau jelasin ke para ulama secara terbuka tindakannya tersebut,” ujarnya lebih lanjut.

Selain KH. Idrus Ramlil, yang mempertanyakan model dakwah Gus Nuril juga datang dari Habib Syech.Sebelumnya mereka sudah perang urat syaraf lewat media online seperti Youtube yang menyindir model dakwah satu sama lain. Puncaknya adalah saat Habib Syech mempersilakan Gus Nuril untuk turun dari panggung saat ceramah di Jatinegara. Habib Syech tidak berkenan dengan materi dakwah Gus Nuril yang menyingung Wahabi dan Ikhwanul Muslimin, namun di sisi lain ia membela Gubernur Ahok yang notabene beragama Kristen. “Untung sekali Anda punya gubernur walau cina (Ahok) tapi Anda diijinin sholawatan dan maulud Nabi Muhammad Saw. Kalau di Saudi, Anda mungkin dipenggal,” ujar Gus Nuril dalam ceramahnya.

Gus Nuril memang sosok yang kontroversial. Semuanya itu disebabkan oleh model dakwahnya yang tidak biasa, di luar mainstream. Namun, sejatinya, Gus Nuril adalah pendakwah yang cinta damai, penuh toleransi, dan gigih memperjuangkan kesatuan dan keutuhan bangsa Indonesia.


Soal Jatidiri Bangsa

Ketika berbicara soal jatidiri bangsa, lelaki berkumis ini menegaskan bahwa Indonesia sudah tidak mengindahkan budaya dan jati diri bangsa lagi. Sehingga jangan heran bila negara ini dengan mudah dihancurkan oleh kekuatan lain (asing).Pancasila yang menjadi dasar negara dan menjadi pondasi berdirinya negara ini tidak jelas pelaksanaannya. "Jangan heran bila negara ini gampang dihancurkan oleh kekuatan lain (asing). Untuk itu NKRI harus dipertahankan dan bangsa ini hidup sejahtera dengan budayanya sendiri. Pancasila harga mati," tandas Gus Nuril, saat menjadi pembicara Komunikasi Sosial FKPPI dan PPM wilayah Korem 073 Makutarama, Rabu (15/04/2015).

Menurutnya, ada upaya mendongkel dan menjadikan Pancasila tidak lagi menjadi dasar negara. Upaya perpecahan telah dilakukan di negara dan bangsa Indonesia. "Negara ini sekarang seperti bukan Demokrasi Pancasila melainkan Demokrasi Liberal yang melebihi liberal yang menjurus ke negara dan bangsa yang munafik dengan KeIndonesiaan yang memiliki budaya dan ala sendiri. Semuanya sudah mata duitan," tegas Nuril.

Menurutnya, sistem pembarakan TNI sehingga tidak bisa bergerak dalam pembentengan negara adalah sistem yang membahayakan NKRI. Pancasila sudah terkoyak dengan segala bentuk upaya pengebirian oleh kekuatan lain, misalnya masalah dengan model hak asasi manusia (HAM). HAM harus tegak ala Indonesia bukan ala asing. Agama harus tegak dengan ala Indonesia. "TNI balik ke barak, model apa ini. TNI benteng negara jangan dibarakkan," tegas Gus Nuril.

Gus Nuril menambahkan, negara ini milik TNI dan rakyat harus diamankan oleh bangsa ini sendiri. Ironisnya saat ini justru bangsa Indonesia miskin dibanding kekuatan-kekuatan asing yang bercokol di negeri ini. Gus Nuril mengingatkan bahwa pengaruh ideologi sangat kuat. Kebijakan pemimpin yang keluar dari rel harus diingatkan. Menurutnya, ulama dan TNI menjadi satu untuk menjaga NKRI.


Soal Gus Dur dan Amin Rais

Ketika Gus Dur, Presiden RI ke 4 mau dilengserkan, nama Gus Nuril merupakan salah satu pembela terdepan, dengan memimpin sekitar 250 ribu Pasukan Berani Mati (Pagar Nusa) yang siap mengamankan Istana Negara – Jakarta.

Hanya karena kebesaran hati Gus Dur, yang tidak mengijinkan Pasukan Gus Nuril bertindak anarki, maka tidak terjadi pertumpahan darah di sekitar Monas. Gus Dur akhirnya lengser dari jabatannya sebagai Presiden dan langsung diterbangkan ke Amerika untuk berobat.

Gus Nuril tidak dendam pada para Tokoh Nasional yang melengserkan Gus Dur, namun Media sempat mengekspose  seolah ada ketegangan antara Gus Nuril dan Amin Rais, salah satu tokoh di balik lengsernya Gus Dur.

Semuanya mencair saat Amin Rais menyempatkan datang ke Ponpes Multi Agama (Soko Tunggal) di Semarang Timur itu, untuk menunjukkan kepada masyarakat luas, bahwa di antara dua tokoh kontroversial itu telah terjadi rekonsiliasi.

Demikianlah Gus Nuril, sosok unik dalam dunia dakwah. Keunikannya semakin kentara saat mellihat fakta bahwa santrinya di Ponpes Soko Tunggal terdiri dari beberapa macam pemeluk agama yang berbeda-beda. Ada Islam ,Budha, Kristen, Kong Hu Cu, Hindu, bahkan dari beberapa Aliran Kepercayaan juga banyak.

Santri-santri Gus Nuril sangat disegani dan ditakuti oleh kelompok Islam radikal. Pesantren Pancasila adalah lembaga yang dipimpin Gus Nuril. Bahkan Gus Nuril menawarkan kepada kelompok non muslim untuk membangun tempat ibadah mereka di atas tanahnya,

Para Santrinya juga datang dari berbagai etnis, ada Jawa, Manado, Cina, Sunda, dan masih banyak yang lain. Tentu kondisi ini selaras dengan ajaran Gus Dur yang pluralis itu, dan Gus Nuril adalah salah satu aplikatornya, dalam mengejawantahkan semangat Bhineka Tunggal Ika – demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


14 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. HAM itu Hak Asasi Manusia, Mau itu ala Indonesia mau itu ala Asing semua tetep manusia. Gusdur ? Kyai yg melegalkan menikah satu agama. dan skrg gus nuril ? yg mati matian memperjuangkan NKRI. selamat datang di akidah melenceng ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. mas amed mabok yah ??? apa bangun tidur ????

      Hapus
    2. Klw baru bngn tidur jngn ngoceh dulu kang, mas, mbah, bro, cuci dl muka

      Hapus
  3. Ini yg lain pakai sorban gus nuril nggak. Ini cerminan orang ind yg beragama islam dng budaya ind. Saluut gus mantab lanjut

    BalasHapus
  4. Ini yg lain pakai sorban gus nuril nggak. Ini cerminan orang ind yg beragama islam dng budaya ind. Saluut gus mantab lanjut

    BalasHapus
  5. semoga allah memberi petunjuk jalan yang benar sebenar benarnya dalam menyampaikan dakwah kepada siapapun yang mengaku ustad, kyai, dan para totkoh agama

    BalasHapus
  6. Ok dakwah seharsnya dimanapun wong itu semua saudara kita sebangsa setanah air indonesia

    BalasHapus
  7. Semakin rusak NU,nuril di panggil kyai.lebih cocok dukun,tukang sihir,tukang rajah,pemanggil jin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yg rusak iku pikiranmu ho,, terlalu kenyang sih kamu dengan cekokan radikal

      Hapus
  8. Sudah Islamiah kah tindakan kita?

    BalasHapus
  9. Wak gus...
    Bagus juga semangatnya untuk berpegang teguh pada kebinekaan...

    Tapi sayangnya suka menghina orang apa lagi keturunan nabi muhammad...

    Sungguh sangat di sayangkan...

    BalasHapus