Label

Minggu, 23 Agustus 2015

FERIT ORHAN PAMUK, NOVELIS MUSLIM KELAS DUNIA

“Lewat karya fiksinya ia dikenal oleh dunia, khususnya oleh penggiat sastra post-modernis. Ia pun meraih banyak penghargaan atas semuanya itu.”
Karya-karyanya telah membelalak mata dunia. Untaian indahnya dalam sebuah kertas menjadikannya sebagai sosok yang sangat populer di negaranya dan cukup disegani dalam sastra dunia post-modernis. Usianya sudah tak muda lagi, tapi ia masih terus berkarya. Dialah Ferit Orhan Pamuk, seorang novelis yang digadang-gadang sebagai sastrawan terbaik di masanya. Tidak lebih dari 40 bahasa telah menerjemahkan karya-karyanya. Pamuk, memang sosok yang fenomenal!

Lelaki berkacamata ini lahir di Istanbul Turki pada 7 Juni 1952 (61 tahun). Dialah seorang novelis Eurasia paling terkemuka di muka bumi sekarang. Ia telah mendapatkan banyak penghargaan baik di dalam negeri maupun luar negeri. Salah satunya adalah masuk dalam 10 tokoh Muslim paling berpengaruh dan 20 tokoh intelektual terkemuka di dunia menurut majalah terbitan AS Foreign Policy bekerjasama dengan majalah terbitan Inggris Prospec.

Pamuk dilahirkan di lingkungan keluarga berada. Ayahnya adalah CEO pertama IBM Turki. Ia belajar di Sekolah Menengah Umum Amerika Robert College di Istanbul. Kemudian ia mengambil program arsitektur di Universitas Teknik Istanbul, karena tekanan keluarganya agar ia menjadi insinyur atau arsitek. Namun ia berhenti setelah tiga tahun dan menjadi seorang penulis penuh waktu.

Pamuk lulus dari Institut Jurnalisme di Universitas Istanbul pada 1977. Ia menjadi sarjana tamu di Universitas Columbia di New York City dari 1985 hingga 1988, dan pada masa yang sama ia pun menjadi mahasiswa tamu di Universitas Lowa. Lalu ia kembali ke Istanbul.

Pamuk menikah dengan Aylin Turegen pada 1982, tapi mereka bercerai pada 2001. Keduanya mempunyai seorang anak perempuan, Rüya. Pamuk tetap tinggal di Istanbul.
Sebagai Novelis Handal

Pamuk mulai menulis secara teratur pada 1974. Novelnya yang pertama, Karanlık ve Işık (Gelap dan Terang) menjadi pemenang bersama dengan novel lain, Mehmet Eroğlu, pada 1979. Novel ini diterbitkan dengan judul Cevdet Bey ve Oğulları (Tn. Cevdet dan anak-anaknya) pada 1982, dan memenangkan Hadiah Novel Orhan Kemal pada 1983. Novel tersebut berkisah tentang tiga generasi sebuah keluarga Istanbul kaya yang hidup di Nisantasi, distrik Istanbul tempat Pamuk dibesarkan.

Pamuk memenangkan sejumlah penghargaan kritis untuk karya-karya awalnya, termasuk Hadiah Novel Madarali 1984 untuk novel keduanya Sessiz Ev (Rumah yang Sunyi). Novel ini diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis dengan judul Prix de la Découverte Européenne tahun 1991. Novel historisnya, Beyaz Kale (Kastil Putih), terbit dalam bahasa Turki pada 1985, memenangkan Penghargaan Independen untuk Fiksi Asing 1990 dan menjadikan reputasinya di luar negeri meningkat.

Atas prestasinya itu, The New York Times dalam sebuah Tinjauan Buku menulis, “Bintang yang baru telah terbit di timur--Orhan Pamuk.” Kebintangannya semakin terlihat kala menulis novel berikutnya yang berjudul Kara Kitap (Buku Hitam) tahun 1990. Novel ini menjadi salah satu bacaan yang paling kontroversial dan populer dalam sastra Turki karena kompleksitas dan kekayaannya.

Pada 1992, ia menulis naskah untuk film Gizli Yüz (Muka Rahasia). Film yang disutradarai oleh Ömer Kavur, sutradara Turki terkemuka, ini terinspirasi dari karya Pamuk yang berjudul Kara Kitap.
Kebintangan Pamuk tidak berhenti sampai di situ. Lima tahun kemudian (1995), Pamuk kembali mengeluarkan novel berjudul Yeni Hayat (Kehidupan Baru). Novel ini mampu menimbulkan sensasi baru di Turki sehingga menjadi buku yang paling cepat dijual dalam sejarah Turki.

Tidak saja menulis novel, Pamuk juga menulis esai yang diterbitkan oleh media setempat. Esai-esainya sarat kritik terhadap pemerintah dan selalu berusaha membela hak-hak politik suku Kurdi. Namun, hobinya untuk terus menulis novel tak pernah padam. Pada tahun 1999, Pamuk kembali menerbitkan buku novelnya dengan judul Öteki Renkler (Warna yang Lain).

Produktivitas Pamuk sungguh luar biasa. Setahun kemudian, tahun 2000, ia kembali mengeluarkan karya berjudul Benim Adım Kırmızı (Namaku Merah). Karya ini membuat reputasi internasionalnya semakin mengkilat. Novel ini mencampurkan teka-teki misteri, roman dan filosofis yang berlangsung di Istanbul pada abad ke-16, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Ottoman Murat III. Novel ini mampu mengundang pembacanya untuk mengalami ketegangan antara Timur dan Barat dari perspektif yang sangat memukau. Namaku Merah telah diterjemahkan ke dalam 24 bahasa dan memenangkan hadiah sastra internasional yang paling bernilai, Hadiah IMPAC Dublin pada 2003. Dia pun mendapatkan uang senilai $127.000.

Atas prestasinya itu, Pamuk pernah ditanya, “Apakah pengaruh kemenangan hadiah IMPAC ini atas kehidupan dan karya anda?”

Pamuk menjawab, “Tak suatupun yang berubah dalam hidup saya karena saya bekerja sepanjang waktu. Saya telah menghabiskan 30 tahun dalam menulis fiksi. Selama 10 tahun pertama, saya kuatir tentang uang dan tak seorangpun bertanya berapa banyak uang yang saya hasilkan. Dekade kedua saya menghabiskan uang dan tak seorangpun bertanya tentang hal itu. Dan saya telah menghabiskan 10 tahun terakhir dan setiap orang ingin tahu bagaimana saya menggunakan uang itu, suatu hal yang tidak akan saya lakukan.”

Novel paling mutakhir Pamuk adalah Kar (2002). Novel ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris tahun 2004 dengan judul Snow (Salju). Novel ini membahas konflik antara Islamisme dan Baratisme di Turki modern. New York Times mencatat Snow sebagai salah satu dari “Sepuluh Buku Terbaik untuk 2004”. Ia juga menerbitkan sebuah memoar/catatan perjalanan yang berjudul İstanbul-Hatıralar ve Şehir pada 2003. Memoar ini juga diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul  Istanbul-Memories and the City (Istanbul-Kenangan dan Kota) tahun 2005.

Dengan segala prestasinya itu, pada tahun yang sama (2005) Pamuk pun diberikan penghargaan “Hadiah Perdamaian Pameran Dagang Buku Jerman” senilai 25.000 Euro. Ini adalah hadiah buku paling bergengsi Jerman yang diberikan di Gereja St. Paulus di Frankfurt.

Pada umumnya, buku-buku Pamuk dicirikan oleh kebingungan atau hilangnya identitas yang sebagian ditimbulkan oleh konflik antara nilai-nilai Eropa dan Islam. Mereka seringkali mengganggu atau menggelisahkan, namun mencakup plot yang rumit dan memikat, serta tokoh-tokoh yang mendalam. Karya-karyanya juga diwarnai dengan bahasan dan pesona terhadap seni kreatif, seperti sastra dan lukisan.
Tuduhan Kriminal

Di tengah kebintangannya sebagai seorang novelis, Pamuk juga tersandung kasus yang membuatnya hampir di penjara. Semuanya ini berawal dari ucapannya sendiri saat diwawancarai oleh Das Magazin, sebuah terbitan Swiss pada Februari 2005. Dalam wawancara itu, Pamuk menyatakan, “Tiga puluh ribu orang Kurdi dan sejuta orang Armenia dibunuh di negeri ini dan tak seorangpun kecuali saya yang berani berbicara tentang hal ini.”

Sejak wawancaranya diterbitkan, Pamuk mendapatkan sorotan yang tajam dari masyarakat Turki. Bahkan, ia merasa dirinya telah dibenci oleh banyak orang sehingga membuatnya pergi ke luar negeri. Namun, ia kembali lagi untuk menghadapi tuduhan-tuduhan yang datang terhadapnya tersebut.

Dalam wawancara dengan BBC News, ia berkata bahwa ia ingin membela kebebasan berbicara, satu-satunya harapan Turki untuk menghadapi sejarahnya sendiri. “Apa yang terjadi kepada orang-orang Armenia Ottoman pada 1915 adalah suatu kejadian besar yang tersembunyi dari bangsa Turki. Ia dianggap tabu. Tetapi kami harus mampu berbicara tentang masa lalu,” ujar Pamuk.

Pamuk terancam Ayat 301 yang menyatakan, “Seseorang yang secara eksplisit menghina keberadaan seorang Turki, Republik atau Dewan Nasioal Agung Turki, akan dikenai hukuman penjara selama enam bulan hingga tiga tahun.” Namun, bukannya jera, Pamuk malah mengulangi kembali pandangannya pada Oktober 2005, ketika berpidato di Jerman dalam rangka menerima penghargaan. “Saya ulangi, saya katakan dengan keras dan jelas bahwa satu juta orang Armenia dan 30.000 orang Kurdi telah dibunuh di Turki,” katanya kala itu.

Kasus Pamuk ini ternyata mendapatkan perhatian internasional. Pada 30 November, Parlemen Eropa mengirim delegasi yang terdiri dari lima anggota, dipimpin oleh Camiel Eurlings, sebagai pengamat di peradilan yang akan menyidangkan Pamuk. Kasus Pamuk ini benar-benar akan menjadi ujian atas komitmen Turki terhadap kriteria keanggotaan Uni Eropa.

Pada 1 Desember, Amnesti Internasional mengeluarkan pernyataan yang menyerukan agar Ayat 301 dihapus dan agar Pamuk dan enam orang lainnya yang akan diadili dengan Undang-undang itu dibebaskan.

Pada 13 Desember, delapan pengarang terkenal dunia --Jose Saramago, Gabriel Garcia Marquez, Günter Grass, Umberto Eco, Carlos Fuentes, Juan Goytisolo, John Updike dan Mario Vargas Llosa-- menerbitkan pernyataan bersama dan mengecam tuduhan-tuduhan atas diri Pamuk sebagai pelanggaran hak-hak asasi manusia.

Karena banyaknya dukungan terhadap Pamuk dan juga lemahnya pasal yang dikenakan kepadanya, akhirnya tuduhan terhadapnya dibatalkan pada 22 Januari 2006. Pamuk pun tak jadi dipenjara dan kembali berkarya.

Namun, dugaan sebagian orang atas pandangan Pamuk pun tetap tak hilang begitu saja. Dugaan bahwa Pamuk sebenarnya sengaja melontarkan pandangannya tentang keberpihakannya pada suku Kurdi dan Armenia, yang selama ini tak pernah dilakukannya. Sebagian pengamat curiga bahwa tujuan Pamuk sebenarnya ingin mendapatkan perhatian internasional sehingga ia bisa memenangkan penghargaan Nobel untuk sastra yang kemudian dianugerahkan kepada pengarang Inggris, Harold Pinter.

Terlepas dari semuanya itu, sesungguhnya Pamuk adalah sosok intelektual Muslim yang disegani dunia lewat karyanya yang bergenre fiksi (novel). Jarang sekali orang Islam mendapatkan tempat yang begitu kuat dalam sastra dunia, salah satunya adalah Pamuk ini. Karena itu, buat para pecinta karya-karya fiksi, beruntunglah karena sosok Pamuk pernah hadir ke dunia ini dengan karya-karyanya yang mencengangkan dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar