Label

Senin, 24 Agustus 2015

AZIM PREMJI, MILIUNER MUSLIM ASAL INDIA

“Kita harus memiliki ketegaran untuk berfikir besar, tidak pernah mengkompromikan nilai-nilai dasar dalam keadaan apapun, selalu membangun kepercayaan diri dan memandang ke depan,” ujar Azim Premji.
Menjadi orang kaya raya di sebuah negara mayoritas adalah hal yang wajar. Yang tidak wajar adalah ketika ia sukses dan menjadi kaya raya di sebuah negara minoritas. Itulah yang terjadi pada sosok Azim Premji. Dia sukses menjadi muslim paling kaya di dunia, padahal ia tinggal di India yang mayoritas beragama Hindu.

Kekayaan Azim seperti dilansir The Wall Street Journal belum lama ini, ditaksir mencapai US$ 17 miliar. Pengusaha muslim terkaya berikutnya adalah Suleiman Kerimov asal Rusia, dengan total kekayaan US$ 14 miliar. Sementara Naseer Al Karafi dari Kuwait berada di urutan ketiga, dengan kekayaan mencapai US$ 11 miliar.

Yang menarik dari sosok Azim, di negerinya, ia hidup di kalangan minoritas. Lebih dari itu, negeri yang lebih dari 80% penduduknya pemeluk agama Hindu ini, kerap diwarnai pertentangan antargolongan. Bahkan, konflik yang terjadi terkadang berkembang menjadi bentrokan berdarah. Itu sebabnya, janganlah heran, kehidupan antar-umat beragama di negeri ini -terutama di kalangan pemeluk Hindu dan Islam- selalu dibumbui rasa saling curiga. Oleh karena itu, menjadi pebisnis muslim yang sukses di India, sesungguhnya merupakan prestasi tersendiri.

Azim sukses berkat perusahaannya yang bernama Wipro Ltd, berhasil menjadi salah satu perusahaan raksasa di dunia dalam bidang teknologi informasi (TI). Akibat kesuksesannya itu, Azim menikmati berkahnya menjadi orang terkaya di India selama kurun waktu 1999-2005.

Salah satu keberhasilan Azim dalam berusaha adalah ia tidak membawa atribut keagamaan. Semua dilakukannya, semata-mata dengan pertimbangan ekonomi. Antara lain, ia tak pernah membeda-bedakan 70 ribu pekerjanya berdasarkan agama yang dipeluknya. Bahkan di setiap hari besar agama Islam, Azim tak pernah meliburkan karyawannya. Begitu pula halnya ketika ia memutuskan siapa di antara karyawannya yang layak menduduki posisi di tingkat top management, pertimbangannya hanya berdasarkan pada prinsip-prinsip profesional. Karena itu, bisa dimaklumi, hanya beberapa orang yang seagama dengannya yang dapat duduk di jajaran direksi.

Azim sadar betul, itulah konsekuensi yang harus ditanggungnya ketika menjalankan bisnis di negara yang sangat rentan dengan perbedaan agama. Dirinya juga sadar betul bahwa di negeri dengan penduduk mencapai satu miliar ini, sebagian besar dari mereka masih hidup miskin. Karena itu, ia tak mau menunjukkan kemewahan yang dimilikinya kepada publik. Hal ini patut dilakoninya, karena negeri ini masih begitu rentan terhadap isu kesenjangan sosial.

Sebagai seorang miliarder, sejatinya, Azim tergolong sosok pengusaha yang amat bersahaja. Itu sebabnya pula, ke mana ia pergi, kendaraan yang ditumpanginya hanya sedan Ford Secort produksi 1995. Bahkan tak jarang, ketika tiba di Bandara Mumbai di Bangalore dari perjalanan ke luar negeri, ia lebih memilih naik taksi ke kantornya ketimbang dijemput kendaraan perusahaan.

Ia juga menolak disediakan tempat parkir khusus bagi kendaraannya. Sosoknya yang amat bersahaja inilah yang mengantarkan Azim menjadi salah satu tokoh muslim yang paling dihormati di negerinya.  
Penghargaan Dunia

Pada tahun 1966, ayah Azim meninggal dunia. Azim yang saat itu masih berusia 21 tahun dan baru menyelesaikan studinya di jurusan Electrical Engineering, Stanford University, Amerika, otomatis melanjutkan usaha milik ayahnya (Vanaspati) di bidang industri pertanian.

Empat tahun kemudian, Azim berusaha mengalihkan orientasi bisnisnya ke arah industri teknologi. Produk perdananya adalah membuat komponen untuk mesin hidrolik. Seiring dengan itu, Azim mengubah nama perusahaannya menjadi Wipro Products Limited.

Orientasi bisnis Azim akhirnya berkembang pesat. Ia tumbuh menjadi salah satu perusahaan raksasa di India, bahkan dunia. Di Indonesia sendiri nama Wipro memang masih terdengar asing. Namun sesungguhnya, perusahaan ini merupakan rekanan bisnis dari berbagai perusahaan raksasa yang bergerak di bidang informasi teknologi, seperti Sun Microsystems, General Electric, dan Motorola. Dalam kemitraan ini, pihak Wipro berperan memasok berbagai produk teknologi yang selama ini dipasarkan oleh para industri raksasa itu.

Berkat kerjasama ini, Wipro dinobatkan sebagai perusahaan outsourcing (business process outsourcing)- khususnya di bidang informasi teknologi- terbesar di dunia. Di tangan pria yang kini berusia 62 tahun itu, Wipro terus saja berkibar. Tahun lalu total pendapatan yang berhasil diraihnya mencapai US$ 3,47 miliar, dengan keuntungan bersih mencapai US$ 677 juta. Prestasi ini tergolong luar biasa bila dibandingkan dengan kinerja pada dua tahun lalu. Ketika itu, perusahaan ini hanya berhasil mencatatkan pendapatan US$ 1,8 miliar dan laba bersih sebesar US$ 409 juta.

Meski sukses sebagai pengusaha kelas kakap, Azim dikenal tidak pelit. Ia termasuk konglomerat yang budiman. Sebagian dari keuntungan yang didapat perusahaannya, selalu disumbangkan untuk kegiatan amal. Untuk menyalurkan kegiatan sosialnya, ia mendirikan Azim Premji Foundation. Salah satu kegiatannya adalah membantu pendidikan bagi generasi muda di India. Meski baru didirikan enam tahun lalu, yayasan ini telah mampu menyekolahkan tak kurang dari 1,8 juta anak di India.

Azim Premji Foundation juga telah membentuk 25 organisasi sosial lainnya, yang diarahkan untuk membantu pengentasan kemiskinan di negerinya. Lewat yayasan itu pula, berbagai karya nyata lainnya dibangun, di antaranya 900 gedung sekolah di 17 negara bagian di India. Menurut Azim, berkat kegiatan sosialnya ini ia berharap dapat memberikan kontribusi bagi rakyat India agar mereka bisa menjemput masa depan yang lebih baik.

Selain sebagai pengusaha muslim terkaya di dunia, Azim juga menempati urutan ke-21 orang terkaya di dunia versi Forbes tahun 2007. Pada tahun itu pula, ia masuk dalam jajaran 30 pengusaha terhebat sepanjang masa versi BusinessWeek. Lebih lengkapnya, prestasi Azim sebagai berikut: 10 orang di dunia yang paling mampu membuat perubahan versi Forbes tahun 2003, 100 orang paling berpengaruh di dunia versi Time pada April 2004, 100 miliuner yang paling banyak membuat perubahan versi Financial Times pada November 2004.

Perusahaan Azim juga disebut sebagai penyedia jasa R&D Independen terbesar di dunia, 3 besar penyedia jasa BPO di dunia, pendapatan per tahun mencapai 2,4 miliar dolar, 100 perusahaan teknologi paling terkemuka di dunia menurut Business Week, pada 2006 menempati urutan ke-7 dalam daftar 100 perusahaan outsourcing paling terkemuka di dunia, perusahaan jasa software pertama di dunia yang meraih SEI CMM (People Capability Maturity Model) Level 5, memenangi risk management award dari majalah Financial Times -The Banker, perusahaan pertama di luar AS yang menerima IEEE Software Process Award, dan menerima global leadership award dari Dale Carnegie.

Atas segala prestasinya tersebut, banyak orang yang bertanya: Apa sih resep hidup suksesnya?

Resep Sukses

Suatu ketika Azim pernah ditanya soal resep hidup sukses. Menurutnya, “Saya tidak tahu resepnya. Berdasarkan pengalaman pribadi saya sendiri, saya akan mengatakan bahwa kuncinya adalah kerja keras, menuruti kata hati, mempercayai orang-orang di sekitar kita dan meminta bantuan, mengambil resiko, teguh dalam integritas dan tentu saja keberuntungan.”

Salah satu nilai yang dipegang oleh Azim Premji adalah nasehat ibunya ketika dia sedang mulai membangun perusahaan. Ibunya pernah mengatakan kepadanya, “Kalau kau meyakini sesuatu, pertahankanlah itu, jangan goyah. Hormatilah komitmenmu. Kalau kau berhutang pada orang lain, bayarlah. Jika tidak punya cukup uang untuk membayar mereka sekarang, buatlah jadwal untuk membayarnya nanti.”

Selain hal di atas, alangkah baiknya kalau kita melihat juga keseharian Azim Premji dalam mengelola hidupnya, yaitu: Pada pukul 04.30, lampu menyala di bungalow Azim H. Premji yang luas di kota selatan India, Bangalore. Pemimpin Wipro ini terbangun. Usai sholat Subuh, diseduhnya kopi dan dibombardirnya para manajer perusahaannya di 4 benua dengan surat elektronik, yang membicarakan berbagai persoalan, dari masalah geopolitik sampai detail kontrak. Pukul 07.00, Azim Premji berjalan kaki 250 meter ke kantornya di kampus Wipro yang luasnya 5 hektar. Kemudian sarapan dengan telur dadar dan roti bersama pelanggan atau pejabat pemerintah. Acara itu kemudian diikuti rapat-rapat bisnis. Sebelum matahari memuncak pada siang hari, Azim Premji telah bekerja 7 jam dan sisanya masih 7 jam lagi. Sering dia mengakhiri harinya di sebuah penerbangan komersial, bukan jet perusahaan atau pribadi.
Apakah Anda harus meniru gayanya? Boleh saja. Jika Anda merasa bisa sukses dengan apa yang dilakukan Azim, kerjakanlah! Yang penting, salah satu kunci sukses Azim yang tidak boleh Anda tinggalkan adalah percaya diri dan berpikir ke depan. “Kita harus memiliki ketegaran untuk berfikir besar, tidak pernah mengkompromikan nilai-nilai dasar dalam keadaan apapun, selalu membangun kepercayaan diri dan memandang ke depan,” ujar Azim.

Semoga kelak akan muncul lagi pengusaha-pengusaha muslim kelas dunia seperti Azim! Amien.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar