Label

Senin, 24 Agustus 2015

ARNOUD VAN DOORN, MASUK ISLAM KARENA FILM YANG DIBUATNYA SENDIRI

“Lewat Fitna, ia mendeklarasikan kebenciannya terhadap Islam. Tapi, seiring waktu, ia justru berbalik menjadi Muslim dan memperjuangkan keislamannya hingga titik darah penghabisan.”
Tahun 2008, dunia Islam pernah dikejutkan dengan lahirnya film berjudul Fitna. Pasalnya, film yang disutradarai oleh Geert Wilders ini menggambarkan Nabi dan Islam secara serampangan. Pembuatan film ini sendiri dilatarbelakangi oleh pengetahuan Wilders tentang sejarah Islam. Ia merasa bahwa Islam telah mengurangi kebebasan di Belanda dan perilaku Muhammad tidak cocok dengan kemoralan Barat. "Pesan saya jelas, makin banyak islamisasi akan berarti berkurangnya kebebasan kita, akan mengurangi hal-hal yang kita junjung tinggi di Belanda dan di sebuah negara demokrasi."

Film yang menuai kontroversi hebat di seluruh dunia itu, khususnya di negara-negara Islam, kini menyisakan kisah lain dari produsernya yang bernama Arnoud Van Doorn, seorang aktivis politik Partai Kebebasan (PVV) di Belanda. 

Kenapa?  

Lewat film itu, Van Doorn memang telah berhasil membuat citra Islam semakin buruk di Barat. Ia pun disanjung dan dielu-elukan oleh mereka yang anti-Islam. Tapi, itu kisah yang sudah usang. Itu Van Doorn masa lalu. 

Kini, Van Doorn telah berbalik seratus persen. Ia telah menjadi muallaf (masuk Islam). Kabar soal keislaman Van Doorn sebenarnya sudah mulai diketahui publik ketika ia menulis secara sengaja di twitter-nya kalimat syahadat dengan bahasa Arab, Asyhadu an laa ilaaha illallah wa-asyhadu anna muhammadar-rasuulullah (Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah).

Tidak itu saja, Van Doorn juga menulis kata “new beginning” (awal yang baru), yang menunjukkan bahwa ia telah menjadi orang yang baru, yaitu Muslim. Dan itu akhirnya dipertegas oleh beliau sendiri bahwa ia memang telah masuk Islam.

Diakui oleh Van Doorn, awalnya banyak orang yang tidak percaya akan keislamannya. "Aku bisa mengerti kenapa orang-orang tidak percaya (dengan keislamannya), terutama bagi banyak orang," kata Doorn seperti diberitakan saluran Al-Jazeera Inggris. Tapi, kini, mereka telah tahu semua dan yakin bahwa Van Doorn benar-benar telah menjadi Muslim.

Pertanyaannya: Bagaimana Van Doorn bisa masuk Islam, padahal dulu ia begitu membencinya?

Proses Masuk Islam

Menurut pengakuan Van Doorn sendiri kepada media bahwa setelah ia dan Geert Wilders, berhasil memproduksi film yang melecehkan Rasulullah Saw., yaitu Fitna, hati kecilnya justru mulai terusik. Ia mulai penasaran ingin mengetahui Islam yang sesungguhnya. Apakah benar Islam itu seperti yang ia gambarkan selama ini? "Saya benar-benar mulai memperdalam pengetahuan saya tentang Islam karena penasaran," kata Van Doorn mengenang awal mula hidayah Islam menghampirinya.

Van Doorn pun mulai mencari terjemah al-Qur’an dan mempelajarinya. Tidak itu saja, ia pun mencari referensi-referensi Islam untuk memperdalam pengetahuannya tentang Islam. Aktivitasnya yang aneh ini sebenarnya sudah diketahui oleh orang-orang terdekatnya. Tetapi, agaknya mereka tidak sampai berpikir bahwa itu akan menjadi jalan hidayah bagi Van Doorn. Karena lazim dalam dunia mereka, mengkaji sebuah pemikiran atau suatu faham tanpa harus mempercayai dan mengikutinya. Bahkan, tidak sedikit orang yang mempelajari Islam untuk kemudian menyerangnya.

Waktu terus berjalan. Tidak terasa, telah setahun Van Doorn mempelajari Islam. Tidak hanya belajar sendiri, ia kadang bertanya pada orang-orang Muslim tentang Islam. "Orang-orang di sekitar saya tahu bahwa saya telah aktif meneliti Qur'an, sunnah dan tulisan-tulisan lain selama hampir setahun ini. Selain itu, saya juga telah banyak melakukan percakapan dengan Muslimin tentang agama," ujar Van Doorn kepada televisi Al-Jazeerah Inggris, Maret lalu.

Apa yang didapatkannya?

Ternyata, Islam tidaklah seperti yang digambarkan kebanyakan teman-temannya. Ternyata Islam bukanlah apa yang ada dalam pikirannya selama ini, yaitu penuh kekerasan dan kebencian. Islam justru mengajarkan pada cinta damai. "99 persen kaum muslimin adalah pekerja keras dan pecinta damai. Jika lebih banyak orang mempelajari Islam yang benar, semakin banyak orang yang akan melihat keindahan itu," kata Van Doorn.

Menurutnya, Islam juga tidak fanatik, bukan penindas wanita, dan tidak membabi buta memusuhi Barat. Ia merasakan bahwa Islam itu sangat istimewa. Singkat kata, Van Doorn pun semakin cinta dan tertarik pada Islam.

Jalan hidayah bagi Van Doorn semakin terbuka lebar ketika bertemu dengan seorang Muslim bernama Aboe Khoulani, seorang rekannya yang menjabat di Dewan Kota Den Haag. Selain menjelaskan Islam lebih jauh, ia juga menghubungkan Van Doorn dengan Masjid As-Soennah. Dari pertemuan intensitas dengan Masjid As-Soennah inilah yang akhirnya membuat Van Door kemudian yakin untuk masuk Islam.

Reaksi Orang

Akhirnya, Van Doorn masuk Islam. Keputusannya untuk memeluk Islam ternyata telah mengundang berbagai reaksi di Belanda. "Menurut beberapa orang, saya adalah pengkhianat,” katanya kepada al-Jazeera. Bagi Van Doorn, reaksi negatif akan keislamannya tersebut adalah hal yang wajar. Sebab, ia tinggal di sebuah negara Barat, mayoritas Non-Islam dan aktivis politik lagi. Apalagi, sebelumnya, ia pernah memproduseri sebuah film yang mengusung kebencian terhadap Islam dan Rasulullah.

Tapi, Van Doorn juga merasakan ada beberapa orang yang mendukung langkahnya, terutama dari kalangan teman-teman se-Muslim. “Tetapi, menurut sebagian orang juga, (dengan masuk Islam) saya telah benar-benar membuat keputusan yang sangat baik,"  katanya lebih lanjut.

Van Doorn mengakui bahwa sebelum menjadi muallaf, ia telah melakukan kesalahan yang fatal dalam hidupnya. "Saya telah membuat kesalahan dalam hidup seperti banyak orang lain,” ujarnya menyesal. Namun, Van Doorn tidak berkecil hati. Justru dari pengalaman hidup masa lalunya itu, ia akan belajar banyak hal. “Dari kesalahan-kesalahan ini saya telah belajar banyak," kata Doorn.

Van Doorn juga menyadari bahwa dirinya masih awam soal Islam. Karena itu, untuk semakin menguatkan keimanannya, ia harus banyak belajar lagi tentang Islam. "Saya menyadari bahwa ini adalah awal yang baru dan bahwa saya masih harus banyak belajar juga,” katanya jujur.

Lalu, bagaimana dengan aktivitas politiknya?

Van Doorn menegaskan bahwa ia tetap akan di jalur politik sambil terus terjun di bidang seni film. Khusus dalam bidang politik, ia menyadari betul bahwa pasti akan terjadi banyak friksi, khususnya dalam partai politik yang diusungnya. Namun, tentu saja, itu adalah reaksi yang wajar. “Ke depannya tentu saya akan terus menghadapi banyak perlawanan, juga dari instansi pemerintah tertentu," katanya.

Meski begitu, Van Doorn meyakini sepenuh hati akan pertolongan Allah. Ia tak sedikitpun menyiutkan langkah untuk terus tampil. Sebab, Allah akan selalu bersamanya. "Saya memiliki keyakinan kepada Allah untuk mendukung saya dan membimbing saya melalui saat-saat ini,” ujarnya penuh yakin.

Umrah dan Haji

Bagi Van Doorn, yang penting sekarang adalah bagaimana bisa menjalani hidupnya sebagai Muslim dengan penuh kebenaran. Untuk itu, sebagai perwujudan totalitasnya dalam ber-Islam, ia pun pergi umrah beberapa waktu yang lalu. Konon, ia tertarik umrah setelah bertemu dengan dua imam Masjid Nabawi, yaitu Sheikh Ali Al-Hudaifi dan Syaikh Salah Al-Badar. Dari kedua orang ini, Van Doorn mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim yang baik dan bagaimana menghadapi tantangan yang dihadapi Islam di Barat.  

Tidak cukup dengan umrah, kemarin (tahun 2013) ia pergi lagi ke tanah suci. Kali ini dalam rangka menunaikan ibadah haji. Kesempatan berharga ini, ingin Van Doorn manfaatkan untuk melakukan taubatan nasuha. Ia pun mengaku seringkali menangis saat berhaji. “Saya berdoa semoga air mata saya ini mampu menghapus segala dosa yang telah saya lakukan di masa lalu,” ujarnya seperti dikutip surat kabar Ukaz.

Saat berada di makam Nabi, Van Doorn pun mengaku tergoncang hatinya, seolah pengalamannya di masa lalu saat membuat film Fitna muncul kembali. “Saya merasa malu berdiri di depan makam Nabi. Saya berpikir tentang  kesalahan besar yang telah saya perbuat di mana saya telah memproduksi film yang sangat tidak bermoral,” katanya. Karena itu, hanya satu hal yang diminta olehnya, “Saya berharap bahwa Allah akan mengampuni saya dan menerima tobat saya.”

Sebagai penebusannya, Van Doorn pun berjanji bahwa sekembalinya dari tanah suci, ia akan membuat sebuah film tentang Islam lagi. Tapi, kali ini dengan genre yang berbeda dan nafas yang positif. “Saya akan bekerja untuk menghasilkan karya besar guna melayani Islam dan kaum Muslimin setelah kembali dari ibadah haji,” janjinya.

Lebih lanjut, Van Doorn mengatakan bahwa ia akan memberikan waktu untuk melindungi hak-hak Muslim di semua negara Eropa serta melayani Islam dan pengikutnya di seluruh dunia. "Saya akan mencoba yang terbaik untuk memperbaiki kerusakan yang saya sebabkan kepada Islam dan Nabi melalui film Fitna,” ujarnya penuh kejujuran.

Van Doorn melanjutkan, "Saya akan menggunakan semua pengalaman saya dalam memproduksi sebuah film alternatif, yang akan berbicara tentang citra Islam yang sebenarnya dan semua aspek dari kepribadian Nabi sesuai dengan jiwanya yang besar."

Dengan cara ini, Van Doorn ingin agar orang-orang Barat tahu tentang Islam yang sebenarnya. Soalnya, mereka benci terhadap Islam dan Nabi karena mereka tidak tahu. "Saya juga menyadari intensitas kebencian yang beberapa orang Barat miliki terhadap Islam dan Nabi (SAW) dan itu tampaknya didasarkan pada ketidaktahuan dan prasangka mereka," katanya.

Oleh karena itu, Van Doorn memutuskan diri untuk sekuat tenaga bisa memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh film Fitna. Sebab, film itu sengaja dibuat untuk menghasud antara Islam dan Non-Islam.  

Van Doorn pun menyoroti partainya yang selalu mengusung kebencian terhadap Islam. "Partai ini berdiri melawan Islam dan penyebarannya di Eropa. Beberapa dari mereka sekarang menganggap saya sebagai pengkhianat,” ujarnya.

Namun, sekali lagi, Van Doorn tidak mau ambil pusing soal itu. Ia yang kini telah yakin dan mantaf untuk memeluk Islam hanya ingin melaksanakan segala ajaran Islam dengan benar saja. "Sekarang, saya benar-benar menikmati keindahan Islam dan saya sangat senang di dalam berkah Allah yang besar untuk membimbing saya ke jalan-Nya," kata Doorn mengakhiri.

1 komentar: